
Peran Santri di Hari Santri
Sebagai seorang santri harus punya peran di dalam pembangunan bangsa dan negara. Setidaknya, santri harus mempunyai peran yang baik bagi dirinya sendiri, keluarga, atau masyarakat sekitar. Peran masing-masing orang dapat berbeda-beda. Bahkan sesama santri pun bisa mempunyai peran yang tidak sama. Tidak ada yang bernilai lebih di antara peran yang kita miliki. Semua peran menempati fungsimya masing-masing. Hari santri adalah hari kebaikan untuk negeri tercinta, Indonesia.

Santri dapat menjadi birokrat dan teknokrat. Bisa juga menjadi ustadz atau lainnya. Banyak sekali peran yang bisa dijadikan ladang beramal. Tentu saja yang dimaksud adalah amal saleh, memberikan kemanfaatan, dan tidak memberikan mudharat bagi orang lain. Jangan sampai seorang santri menjadi pecundang setelah menjadi pejabat. Berbuat kebohongan setelah menjadi pebisnis. Menjadi khianat setelah diberi amanat. Jika ini yang terjadi, maka hilang sudah nilai-nilai kesantriannya, dan ilmu yang diperoleh di pesantren menjadi sia-sia dan tak berguna.
Santri dan pembangunan (mental dan spritual) adalah dua aspek; yang satu (santri) sebagai subjek, pelaku, atau pioner, sedangkan yang lainnya (pembangunan) adalah sebagai obyek, tujuan, atau puncak kesuksesan. Santri harus menjadi sentra pelaku kebaikan di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Menjadi penggerak dalam pendidikan, dan siap memberikan yang terbaik dalam hidup dan kahidupan.
Peran santri dalam pembangunan bangsa sangat vital dan signifikan. Harus memberikan kemanfaatan baik bagi diri sendiri, lingkungan, serta masyarakat secara keseluruhan. Sebab santri diharapkan banyak oleh masyarakat setelah kembali dari belajar di pesantren. Setelah ditempa oleh pengalaman pembelajaran di pondok, ilmu yang didapat harus diterap-manfaatkan dalam kehidupan. Dan masyarakat berharap bahwa peran santri berdampak positif dan memberikan faidah yang lebih besar. Harapan masyarakat terhadap santri luar biasa. Maka harapan ini jangan sampai terabaikan dan harus dijadikan pecut semangat dalam berbuat kebajikan.
Rasulullah SAW, bersabda, “Janganlah kamu mempelajari ilmu untuk tujuan berkompetisi dan menyaingi ulama, mengolok-olok orang yang bodoh dan mendapatkan simpati manusia. Barang siapa berbuat demikian, sungguh mereka kelak berada di neraka.” (HR. Ibnu Majah).
Wallahu A’lam bis Shawab!
