Reorientasi Islam (2)

Lewat proses Islamisasi, kaum Muslim senantiasa terbuka kepada perluasan dan perubahan. Kaum Muslim dapat mengambil setiap pengalaman apapun, asalkan tidak bertentangan dengan idealitas mereka. Kaum Muslim telah banyak mengambil bentuk-bentuk birokrasi mereka dari contoh-contoh Romawi dan Persia. Sekarang, banyak yang dapat dipinjam dari sumber-sumber kontemporer, secara kritis ditinjau dalam timbangan nilai dan norma Syariat, dan dimasukkan ke dalam kerangka pemerintahan Islam.

Di samping tulisan-tulisan dan kegiatan-kegiatan para reformis, karena latar belakang tradisional mayoritas pemimpin agama dan massa Muslim, maka eksperimen-eksperimen keislaman dan ideologi pemerintah dan organisasi keagamaan selalu didominasi oleh orientasi tradisional. Jadi, ketika kekuatan-kekuatan agama memperoleh kekuasaan atau mempengaruhi kekuasaan dan menjadi keras menyuarakan tuntutan Islamisasi masyarakat, maka Islam yang banyak diperjuangkan atau diperkenalkan umumnya adalah Islam masa lalu, yang tidak cuma dalam kaidah-kaidah wahyu tetapi juga dalam ketentuan, dan bentuk-bentuk turunannya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sumber kegagalan para pembaru sekular dan reformis Islam dalam menghasilkan sebuah sintesis yang koheren, sistematis, modern, yang mampu melegitimasi perubahan yang mendasar, dan sumber kegagalan para pemimpin tradisional untuk mendobrak kungkungan mentalitas taklid mereka, adalah keterbelahan mentalitas yang mewabah dalam masyarakat Muslim modern.

Kisah Islam modern adalah kisah tentang dua kelompok Muslim yang memiliki pandangan sangat berbeda tentang kehidupan: sekelompok elite, minoritas beroientasi-Barat, yakin bahwa mereka harus merangsek maju tanpa memedulikan perlawanan para pemimpin agama, dan sekelompok pemimpin agama mempercayai bahwa Islam dan otoritasnya tak terbantah-curiga dan menentang program-program modernisasi, menganggapnya sama dengan Barat, sekularis, materialis, tanpa Tuhan, yang merasuki masyarakat mereka. Jadi, selagi para pemimpin agama ditolak karena sebagai perintang perubahan, kaum elite sekular persis juga disalahkan sebagai penyebab penyakit sosial dan spiritual masyarakat.

Perpecahan dalam masyarakat Muslim ini disebabkan oleh adanya dua sistem pendidikan paralel; pendidikan agama tradisional dan pendidikan sekular modern. Terpecahnya pendidikan merupakan akibat dari proses modernisasi di hampir semua negeri Muslim. Madrasah-madrasah meski ada sebagian kurikulum modern, menghasilkan lulusan-lulusan dengan utamanya pendidikan tradisional yang selanjutnya menjadi pemimpin agama, ustaz, dan ulama setempat.

Namun demikian, seringkali mereka kurang siap untuk menghadapi dan menjawab secara kreatif tuntutan-tuntutan modernitas. Mereka memandang tidak terlalu perlu untuk melakukan reinterpretasi baru atas idealitas dan nilai-nilai tradisional, dan oleh karenanya gagal menjadi model kepemimpinan agama yang diperlukan dalam masyarakat modern. Sekolah-sekolah modern sekular seringkali mendapatkan dana dan dukungan yang lebih dari pemerintah, menghasilkan pendidikan dan kredensial akademik baru untuk jabatan-jabatan yang bergengsi dalam masyarakat modern.

Tinggalkan Balasan