Lulusan mereka cukup ahli dalam disiplin modern, tetapi seringkali tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang agama dan tradisi budaya mereka untuk merumuskan perubahan-perubahan dengan kepekaan yang cukup terhadap sejarah dan nilai-nilai budaya mereka.
Seringkali sistem-sistem dan asumsi-asumsi Barat diadopsi secara membabi buta oleh para elite modern tanpa memedulikan kecocokannya. Kesempatan-kesempatan untuk membuat perubahan dengan kesinambungan dengan masa lalu, akhirnya tak tertangkap dan tak terwujud. Ketika perubahan semacam ini diusahakan, maka perubahan ini dilakukan secara sepotong-potong, dalam bentuk yang tak sistematis yang membuat reformasi gampang diserang dengan tuduhan-tuduhan memanipulasi budaya demi kepentingan Westernisasi.

Akhirnya baik elite tradisional maupun modern gagal memberikan sintesis religiok-ultural baru yang mampu memberikan kesinambungan di tengah-tengah perubahan modern. Penyebaran gerakan modernis Islam dan munculnya organisasi-organisasi aktivis Islam semisal Ikhwanul Muslimin dan Jamaat-i-lslami, membuktikan kegagalan ini.
Banyak orang dari generasi yang lebih muda, khususnya mereka yang datang dari latar belakang tradisional, tetapi sekarang belajar di sekolah-sekolah dan universitas-universitas negeri, merasakan diri mereka terimpit di tengah. Organisasi-organisasi aktivis Islam menawarkan pedoman, rasa komunalitas, suatu program untuk memperkuat iman dan tindakan untuk mencapai keadilan sosial lewat reformasi sosio-politik. Di sinilah letak daya tarik aktivisme Islam.
Keterbelahan pendidikan dan masyarakat serta pengajaran yang menjadi konsekuensi dari dua sudut pandang tradisional dan modern, jelas sekali tergambar dalam revivalisme kontemporer. Tuntutan untuk mewujudkan negara yang lebih berorientasi Islam memerlukan reinterpretasi atas Islam yang memadukan suatu peninjauan ulang atas lembaga-lembaga politik, sosial, hukum, dan ekonomi dan nilai-nilai yang menjiwai lembaga-lembaga ini.
Jika kaum sekularis menyangkal perlu dan mungkinnya melaksanakan tugas semacam ini, para pemimpin agama umumnya tidak memiliki kemampuan untuk melaksanakan tugas ini. Para pemimpin agama yang lebih konservatif cenderung terikat dengan masa lalu.
