Dalam menghadapi penjajahan Belanda, KH Hasyim Asy’ari melakukan perlawanan secara aktif, progresif, dan nonkooperatif. Kaum sarungan tidak lagi hanya belajar ilmu agama Islam, namun juga belajar bahasa Belanda, berpidato (bicara di depan umum), berhitung, dan ilmu bela diri. Tujuannya untuk menyiapkan kader santri berjiwa nasionalisme agar bersiap diri menyambut panggilan jihad membebaskan Indonesia dari cengkeraman penjajahan. Menjadi pasukan berani mati yang selalu siap memberikan segala potensinya untuk bangsa dan negara.
KH Hasyim Asy’ari juga mengeluarkan fatwa tentang haramnya umat Islam di Indonesia bergabung menjadi tentara Belanda. Sikap tegas inilah yang membuat dirinya memiliki pengaruh di kalangan masyarakat Indonesia, disegani kawan maupun lawan. Tapi, sikap politik yang nonkooperatif itu membuat tentara Belanda marah dan membakar pesantrennya pada tahun 1913.

Untuk menghadapi kebrutalan penjajah, KH Hasyim Asy’ari membentuk laskar dalam tiga kelompok. (1) Laskar Hizbullah yang membawa semboyan “Ala Inna Hizbullahi Hum al-Ghalibun” (Wahai sesungguhnya golongan Allahlah golongan yang menang). (2) Laskar Sabilillah untuk para kiai, pria dan wanita, dengan membawa semboyan “Waman yujahid fi sabilillah, (Mereka yang berjuang di jalan Allah). (3) Laskar Mujahiddin atau pasukan maut. Laskar ini membawa semboyan “Walladzina jahadu fina lanahdiyannahum subulana” (Mereka yang berjuang dijalan-Ku, Aku akan tunjukkan mereka jalan-jalan-Ku) (Rifa’i, 2009).
Sikap politik melawan Belanda itu merupakan bagian dari nasionalisme dan bela tanah air kaum sarungan. Semangat nasionalisme menjadi cara strategis menanamkan sikap kepeduliaan terhadap bangsa dan negara kepada santrinya. Kemerdekaan harus diraih meski harus mengorbankan nyawa.
