Retaknya Bingkai Hati

“Bersama Mas Malik aku mendata santri baru yang baru saja mendaftar pagi ini.”

“Santri putra?” tanyaku penasaran.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Iya, ada seorang santri yang setelah lama menghilang tiba-tiba datang bersama lima belas orang remaja dan anak-anak yang ingin mondok,” jawab Gus Fariq.

Mataku membelalak. Siapa pemuda itu?

“Dia membawa santri baru sebanyak itu kemari?” aku memastikan. Selama ini santri putra hampir bisa dikatakan vakum karena tidak ada yang berminat. Asrama pesantren hanya diisi oleh santri putri. Mas Fans adalah satu-satunya santri di sini, itu pun sudah agak lama menghilang.

“Iya,” sahutnya singkat. Ada saja alibinya untuk meninggalkanku.

Ingatan tentang Mas Fans menari-nari. Apakah benar pemuda itu Mas Fans? Lalu siapa orang-orang yang diajak kemari oleh pemuda yang pernah mewarnai masa laluku itu? Sebenarnya ingin sekali aku ke pondok untuk menengok mereka. Tapi ini tak mungkin aku lakukan. Sekadar bertanya tentang Fansuri saja aku tak berani. Apalagi jika sampai berbuat bodoh mendatangi pemuda itu di asrama.

“Sudah hampir tiga minggu kita menikah. Dan sedari awal kamu belum haid kan?” tiba-tiba dia melontar tanya, membelokkan arah pembicaraan. Gus Fariq telentang di atas dipan memandangi langit-langit kamar. Sesekali matanya melihat keluar lewat jendela. Aku pun dapat melihat air muka serta menebak jalan pikirannya karena kami berjarak hanya sekitar dua depa. Dan ucapannya itu tidak aku tanggapi. Aku pura-pura melipat sajadah dan mukena.

“Apakah tadi malam kamu muntah-muntah saat ke belakang? Saat aku sudah tidur?” pertanyaan itu berlanjut.

“Iya, Mas. Masuk angin sepertinya,” timpalku dengan suara lirih dan dengan kalimat singkat.

“Kenapa kamu tak menjawab bahwa kamu hamil?”

Entah kenapa pertanyaan itu terasa mengusik nuraniku.

“Kenapa pertanyaanmu bernada sinis Mas? Bukankah hamil adalah sebuah anugerah bagi pasangan suami-istri?”

Suamiku itu mendesah. Dia lantas keluar kamar, mungkin mengambil kopi. Pikiranku semakin tidak enak. Gelisah semakin menderaku. Ingatan tentang kejadian di hari yang kelam itu kembali menghantuiku. Kurebahkan badan sambil memeluk bantal di kasur. Ingin kulenyapkan diriku bersama pikiran tak karuan ini. Tapi nista sekali jika sampai aku menyerah menghadapi keadaan.

Pintu terbuka lagi. Kopi dingin itu dibawanya serta. Ia meminumnya sambil duduk di kursi malas. Entah apa yang akan dia ucapkan lagi. Aku semakin merasa takut.

“Kuganti kopinya dengan yang panas, Mas?” tanyaku, melunak.

Tinggalkan Balasan