“Sudah kuminum,” ucapnya. Matanya yang memandang ke luar jendela tak berkedip, kentara sekali sedang ada hal yang mengganjal pikirannya. Entah apa itu, aku tak berani menebaknya.
“Jangan memaksakan diri meminum yang tak disukai,” saranku.

“Kau pun memaksakan diri menikah dengan yang tak kau sukai,” jawabannya membungkam mulutku.
“Ucapan apa itu?” sahutku penuh emosi. Aku tahu menjalani perjodohan ini tidak akan mudah, namun tak ingin aku menambahi penderitaan umi. Rumah tangga kakakku telah retak, hal itu tak boleh menerpa keluargaku. Sesulit apa pun akan tetap kupertahankan.
“Aku tahu kau masih suka pada santri itu. Dan aku juga tahu perasaanmu padaku tak lebih dari sekadar keterpaksaan belaka. Kau terlihat ketakutan setiap kali malam datang. Keringatmu berleleran saat aku mendekatimu. Seolah aku ini kau anggap hantu yang menyeramkan. Sebenarnya aku merasa bersalah telah memaksakan pernikahan ini berlangsung. Aku merasa bersalah telah menyiksamu. Selain aku telanjur suka, aku ingin merealisasikan perjodohan yang telah dirancang orang tua kita dahulu,” ucapnya getir.
Aku terdiam mengunyah ucapannya.
“Kalau kau merasa aku dingin padamu, sebenarnya itu berawal dari sikapmu sendiri. Aku canggung menyadari perasaan terpaksamu itu,” ucapnya lagi.
Aku semakin tak punya kata untuk menyahut ucapannya. Air mataku hampir jatuh. Kutahan-tahan agar tak memperburuk suasana. Lalu perasaan bingung bergejolak. Apakah aku harus jujur padanya? Mungkin dia akan memahamiku. Perasaan cinta akan menghapus bercak hitam yang menempel pada orang yang dicintainya. Dan bagiku, kejujuran itu akan melenyapkan ketakutan-ketakutanku.
Tapi tunggu dulu. Aku tak boleh gegabah. Tak selamanya kejujuran lebih baik dari dusta. Keadaan bisa saja mengubah sebuah postulat, sekokoh apa pun postulat itu. Jangan sampai kesembronoanku berbicara memporak-porandakan rumah tanggaku. Aku diam mencari jawaban. Jangan sampai keliru berkata di saat sensitif seperti ini.
“Engkau memang alim, Mas. Namun kepandaianmu tentang banyak ilmu serta kemampuanmu membaca psikologiku bukan berarti dapat membenarkan semua prasangkamu terhadapku. Tentang isi hatiku, sama sekali kamu salah. Aku tak mungkin mempertaruhkan kebahagiaan hidupku dengan menikahi orang yang tak kucintai. Perasaan mahabbah-ku padamu mungkin tak dapat kamu pahami, tapi sesuatu yang tak kau pahami bukan berarti tidak ada. Ubahlah sikap dinginmu itu.”
Gus Fariq seolah tak mendengar ucapanku. Ekspresinya yang tetap dingin siap membekukan siapa pun lawan bicaranya. Melihat perilakunya ini semakin membuatku bingung. Setelah kupaksa lidahku mendustai perasaanku sendiri, celakanya dia bergeming. Sepertinya ungkapan cintaku kepadanya bukanlah hal yang dia harapkan.
“Maafkan aku tak mempercayai silat lidahmu.”
Jantungku seperti mau meloncat. Dia lemparkan telepon genggamnya di hadapanku. Dan di saat itu pula langkah kakinya berayun meninggalkanku. Dengan tangan gemetar kuraih HP itu. Kupertajam pandangan mataku. Aku kucek hingga berkali-kali. Dan tubuhku terasa lunglai. Berakhir sudah hidupku.
Di HP itu kulihat jelas fotoku yang tengah telanjang bulat. Rasa takut, sedih, marah memelukku dengan sangat hingga menyesakkan batinku. Ingatanku menyelusup kejadian sekitar sebulan yang lalu. Hari kelabu yang memberangus hidupku. Detik di mana ketika aku terbangun, kutemukan tulisan di HP menyertai foto-foto telanjang itu. Bahwa jika aku melapor kebejatannya memperkosaku, foto itu akan disebarnya di internet. Namun, kini foto itu telah disebarnya walau mulutku bungkam tak pernah menguak kebejatannya. Lelaki bejat itu sungguh setan berwujud manusia.
Mentaraman, 19 Januari 2020.
