Di rumah serupa gubuk itu terdengar perbincangan hebat antara Pak Kelebun dan Masdar. Semula ia menolak keras terhadap proyek yang telah melumat segala kepunyaan penduduk. Tak sedikit sawah dan pekarangan melepuh diterjang buldoser. Orang-orang kampung hanya melihat pasrah begitu tangan-tangan besi meratakan tanahnya. Masdar tak ingin hal itu terjadi pada tanahnya. Tanah itu merupakan satu-satunya tanah sangkolan2 mendiang ayahnya.
Duduk di atas lincak reyot berwarna kusam, Pak Kalebun semakin kasar mencecar Masdar yang mulai gemetar. Masdar terdiam, wajahnya pucat. Terdengar nada Pak Kalebun seperti mengancam.

“Jika berani macam-macam jangan harap keluargamu dapat bantuan!” tajam mata Pak Kalebun menatap Masdar yang tak mampu berkata-kata.
Sejak itu keresahan nampak melingkar di wajahnya. Bagi Masdar, rencana pelebaran jalan itu tak ubahnya celurit takabuan yang setiap saat bisa menebas siapa saja. Mata celurit yang melengkung selaksa bulan sabit menyimpan keberingasan, dan menumpas sesiapa yang lengah. Atau barangkali, lorong yang sebentar lagi akan semakin lebar tak lebih dari gerombolan serigala. Bertaring tajam. Berkuku panjang. Sewaktu-waktu menerkam mangsanya dengan cara paling kejam.
Satu pikiran kembali bercabang bahwa proyek pelebaran jalan itu ibarat banjir bandang yang menyapu kebun, sawah, dan rumah. Alih-alih segala kepunyaan orang pinggiran.
“Dia pikir uang ini menjamin kebutuhan kita!” umpat istrinya kesal.
Angin malam berembus kencang. Dada Syarifah bergemuruh ketika mendengar derit pohon bambu diterpa angin. Baginya pohon bambu telah banyak mengalirkan kasih sayang. Pohon bambu adalah ibu yang selalu mengulurkan tangan ketika ia dalam kesulitan. Mengisi perut-perut lapar keluarganya. Mencukupi kebutuhan hidup dan pendidikan anaknya.
Syarifah hanya bisa menabahkan diri atas ketidakadilan dan kesewenangan Pak Kalebun. Dia sadar orang kecil sepertinya tak kan mampu melawan kekuasaan Pak Kalebun yang dibentengi orang-orang besar di belakangnya. Apakah yang lemah memang tercipta untuk ditindas? Syarifah membatin.
“Aku akan menguli. Siapa tahu masih ada sawah yang bisa digarap,” kata Masdar sambil memegang pundak istrinya.
“Apa kau lupa bahwa sawah di kampung ini telah terjual. Apa kau tak melihat fondasi bangunan yang mulai berjajar sepanjang jalan?”
Masdar duduk tepekur dekat jendela. Barulah ia ingat bahwa dua tahun terakhir telah banyak sawah yang dijual untuk dibangun toko modern, hotel, bank dan tempat-tempat mewah yang hanya dimasuki orang berbaju rapi dan wangi. Tak ada aktivitas menanam—memanen padi. Sawah-sawah yang membentang sejauh mata memandang telah terjual pada investor. Dan sebagian lainnya disulap menjadi jalan licin beraspal.

Mantab, Ustaz!
Saya jadi ngelirik pohon bambu di samping rumahku.
Mari jaga tanah kita.
Terima kasih semuanya Rusdi El Umar.