***
Dua tahun setelah pelebaran jalan, gedung-gedung berlantai keramik berdiri gagah di sekitar rumah Masdar. Rumah-rumah megah yang dipasangi pagar terlihat seperti penjara. Orang-orang di rumah itu selalu mengurung diri, seakan menutup kontak sosial walau hanya sekadar bertutur sapa. Di sepanjang jalan, tiang-tiang berjajar rapi dengan pesona kabelnya yang menjulur ke rumah-rumah warga.

Hanya rumah Masdar yang terbuat dari gedek. Sebagian telah ditambal koran dan karung bekas. Raibnya pohon bambu membuat rumah Masdar terlihat seperti kandang ayam. Andai pohon bambu itu masih ada, ia bisa kapan saja menebang dan memperbaiki gedek rumahnya.
Dampak pelebaran lorong itu semakin membuat perekonomian Masdar tercekik. Sulitnya pohon bambu membuat ia terpaksa membeli dari desa sebelah agar bisa menyokong pekerjaannya sebagai perajin layangan. Meski demikian, ia pun harus rela membeli dengan harga yang relatif tinggi. Di satu sisi justru keadaan semakin minindas. Peraturan daerah setempat telah mengeluarkan larangan bermain layangan, dikhawatirkan layangan tersangkut dan menyebabkan kerusakan pada gardu listrik.
Sebagai perajin layangan, Masdar tahu betul akan persaingan permainan saat ini. Dampak pelebara jalan itu telah menularkan penyakit malas pada anak-anak. Permainan modern yang ada di telepon genggam telah merampas segalanya. Jika dulu bermain layangan mempertaruhkan kesabaran, maka permainan modern hanya butuh kelincahan jari tangan untuk menggeser segala macam fitur aplikasi.
Dan kini ketakutan yang bertahun-tahun mengendap di kepalanya telah benar-benar terjadi. Lorong aspal di atas tanahnya yang dulu ditumbuhi berbilah-bilah pohon bambu tak ubahnya ular piton. Membelit. Meremukkan pundi-pundi rupiah yang biasa ia dapat dari hasil menjual layangan.
Ia tak pernah melihat kesejahteraan yang pernah diucapkan Pak Kalebun. Justru ia merasa lorong panjang itu serupa karpet yang sengaja dihampar untuk mengundang kaum pemodal.
“Pak, lapar…” Kasim merengek menahan perih dalam perutnya.
Diam-diam selaput mata Masdar menetaskan bulir-bulir bening serupa gerimis. Lorong panjang yang menjelma ular piton telah membelit perut anaknya. Harus dengan apa ia mengusirnya, sedang serumpun pohon bambu itu telah lenyap dan merampas segala harapannya.
Catatan:
- Kepala desa
- Tanah warisan
Ilustrasi: art-mine.com

Mantab, Ustaz!
Saya jadi ngelirik pohon bambu di samping rumahku.
Mari jaga tanah kita.
Terima kasih semuanya Rusdi El Umar.