Riwayat Pohon Suci

Rustam sudah biasa menjarah hasil tani dan hewan ternak warga. Nyaris setiap wanita cantik di kampung itu dapat suitan nakal darinya, bahkan sebagian dari wanita itu sempat jadi sasaran nafsu bejatnya. Para remaja ia ajak minum dan berjudi. Jika berani menolak, maka si remaja akan dihajar.

Pisuhan, ocehan, cibiran, ancaman, doa kualat hingga doa tersopan berhamburan untuknya dari setiap bibir orang yang ada di kampung itu. Tapi ia tetap enteng dan santai, seolah tak ada apa-apa, setiap hari tetap berlenggang ugal dengan motornya yang berknalpot nyaring, melintasi jalan kampung seraya memamerkan tato, tindik, kalung, dan rambut panjangnya, hingga motor cerewetnya itu diparkir di tempat biasa ia mangkal dengan rekannya; di sebuah rumah tua tak berpenghuni yang ada di bagian belakang pasar Biang. Di tempat itulah, ia dan kawan-kawannya biasa mabuk, berjudi, membawa wanita penghibur, menikmati kepayang, sambil menyalakan musik dugem dari sebuah soundsystem.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dan Rustam adalah penjahat yang lahir dengan kejayaannya. Meski pelipisnya sudah beberapa kali ditembus peluru, dan kulitnya sering disabet celurit, ia tetap hidup dan tak jera dengan kejahatannya. Bahkan ketika warga kompak untuk meringkusnya dengan ramai-ramai, tiba-tiba Ki Harun, si tokoh di kampung itu melarang warga dengan alasan karena setiap orang jahat hendaknya diberi kesempatan untuk kembali ke jalan yang benar, bukan dibunuh. Akhirnya —meski dengan wajah kecut berbalur kekecewaan— warga menuruti nasihat Ki Harun.

Rustam tersenyum dalam kejayaannya. Ki Harun tersenyum karena kewibawaannya. Terakhir, warga yang punya hati lunak hanya bisa berharap agar Rustam bisa dijatuhi buah rambutan itu dengan harapan bisa menjadi orang saleh. Sedang warga yang telanjur benci berharap agar Rustam bisa ditimpa pohon rambutan itu agar ia cepat mati.

Benar, semua perhatian tertuju kepada pohon rambutan purba yang ditanam almarrhum Ki Nolam.

Keajaiban yang ditimbulkan pohon itu selalu membawa perubahan kepada hal yang lebih baik. Kabarnya, keajaiban itu memang terjadi sejak puluhan tahun silam ketika Ki Nolam masih hidup. Dulu, para pejuang bersemedi di bawah pohon itu setiap malam, hingga ada buah yang jatuh ke haribaan mereka. Buah itulah yang kemudian dibawa ke medan perang. Pejuang yang menyimpan buah itu di sakunya akan kebal peluru dan bambu runcing miliknya bisa terbang sendiri menumpas musuh.

Jika musuh datang ke pohon rambutan itu, ada dua hal yang mungkin terjadi ketika melihat buahnya yang merah-merah. Ada yang gemetar ketakutarn sampai lari tunggang-langgang. Ada juga yang berbalik pikiran, hatinya jadi lunak, dan mau bergabung dengan pejuang di kampung itu. Setelah masa kemerdekaan, buah rambutan itu tetap membawa keajaiban-keajaibannya sendiri, terutama bisa melunakkan hati yang keras menjadi lembut.

Malam itu, sepasang mata Rustam menderaikan butiran bening. Ia duduk di teras musala tua Ki Nolam sambil menatap gundukan buah rambutan yang merah-merah diterpa cahaya bulan. Hampir sebulan lamanya, tak ada yang tahu, jika dirirnya sudah rajin ke musala itu setiap dini hari. Di sana ia bersalat dan berzikir, menyesali segala tindak kejinya. Dan malam itu, ia masih tak paham pada keajaiban yang seperti meniup jiwanya untuk terus ingat kepada-Nya. Tapi Rustam menikmatinya, sebab ia merasakan ketenangan yang luar biasa, melebihi kenikmatan dosa yang pernah ia lakukan.

Di lain waktu, semua warga melihat sendiri perubahan yang terjadi pada Rustam. Ia tak lagi memakai kalung, rambutnya dicukur rapi, dan seluruh tatonya dibersihkan. Kini ke musala Ki Nolam tidak hanya pada dini hari. Di siang hari pun ia kerap salat berjamaah bersama beberapa warga. Teman mabuknya meledek keinsyafan Rustam dengan sebutan orang cengeng. Tapi Rustam tak peduli itu, yang ia rasakan adalah adanya jiwa lain yang masuk ke dalam dirinya, yang selalu berkeinginan meninggalkan maksiat dan selalu rindu bersimpuh di hadapan-Nya.

Tinggalkan Balasan