Ini sudah kali kedua Haji Ridwan—si juragan karapan sapi—datang malam-malam ke rumah Sunti. Hal itu juga membuat Sunti dua kali menempelkan tubuhnya ke jendela untuk menguping. Haji Ridwan duduk di teras ditemui Burhan, bapaknya. Merokok, minum kopi, berbincang dan terbahak-bahak. Saat tiba waktunya untuk berbincang penting, keduanya berusaha tak berisik dengan cara satu sama lain saling mendekatkan wajah dan berbicara lirih di samping meja. Namun upaya itu seperti sia-sia, Sunti tetap mendengar obrolan rahasia mereka dari balik jendela yang pojoknya pecah sebatas ditabiri juntaian gorden.
“Anakku ternyata sudah lama tahu pada kedua putri kembar Pak Burhan. Sejak empat bulan yang lalu, diam-diam ia sudah melakukan semacam survei pada mereka sekaligus istikharah untuk menentukan siapa di antara mereka yang akan dipilih,” kata-kata Haji Ridwan sebentar terpotong saat ia mengisap rokok. Burhan hanya mengangguk-angguk dalam riak sepi. Sementara di balik jendela, Sunti kian deg-degan, tak sabar Haji Ridwan ingin segera menyebut dirinya sebagai pilihan yang akan ia lamar.

“Dan dari istikharah itu, terpilihlah hjkkku,” saat Haji Ridwan menyebutkan nama, bersamaan dengan suara jatuhnya barang di dapur yang mungkin tersenggol kucing. Sontak Burhan dan Haji Ridwan kaget, sebagaimana juga Sunti. Tapi kemudian Burhan merespons dengan jawaban yang menandakan ia menangkap dengan jelas pada nama yang disebut Haji Ridwan tadi. Sunti kesal dan mengutuk dirinya karena gagal menguping nama pilihan Haji Ridwan. Tapi dirinya yakin, anak Haji Ridwan yang akan mencalonkan diri sebagai kepala desa itu akan memilih dirinya sebagai istri.
#
Setelah makan malam, Burhan meminta istri dan kedua anaknya duduk sebentar ke ruang tamu. Bersanding tiga jenis buah yang terhidang di meja, semua terlibat dalam kelakar-kelakar segar berseling tawa dengan kunyahan-kunyahan lahap yang kadang menimbulkan bunyi gleg di tenggorokan mereka saat menelan kunyahan, kecuali Sunti—sebagaimana biasa—hanya duduk diam menatap layar HP. Asyik dengan dunianya sendiri sambil menanam hadset di kedua telinganya. Kalaupun ia tersenyum, ia tersenyum pada apa yang ia dapatkan di HP itu. Ia baru menaruh HP setelah Burhan memintanya.
Saat keadaan terasa kondusif, Burhan mulai bercerita tentang kedatangan Haji Ridwan ke rumah itu malam-malam. Semua mendengar dengan fokus; bibir menganga, mata jarang berkedip, dan jantung setengah berdebar. Cerita Burhan maju mundur dan tak langsung masuk ke inti, diselingi diam sejenak dan kadang mengambil napas dalam, membuat semua yang mendengar kian penasaran. Tapi arahnya sudah terbaca; salah satu putrinya akan dilamar anak Haji Ridwan, dan Sunti sangat yakin dirinyalah yang diincar.
“Kata Haji Ridwan, anaknya mantap memilih Sunti sebagai calon istri,” tiba-tiba Burhan berhenti dan menunduk. Sedang Sunti tampak mengembangkan dada, diluap ragam kebahagiaan. Sesekali tersenyum kecil, seolah memproklamirkan diri di hadapan keluarganya—terutama ibunya—bahwa dirinyalah yang punya keberuntungan meski selama ini hanya berias di kamar.
“Tapi, entah kenapa pada akhirnya anak Haji Ridwan berubah pikiran. Ia ganti memilih Sinta sebagai calon istrinya. Jadi anak Haji Ridwan itu mau melamar Sinta. Untuk Sunti, kamu tak usah bersedih, ini hanya soal waktu, Nak!”
Sunti tak mengangguk dan tak menjawab sepatah kata pun. Ia bukan hanya kecewa, tapi lebih dari itu. Begitu sakit, bagai ada puluhan belati jatuh ke dadanya. Tapi sebagai orang yang keras kepala ia sadar; jika ada setetes air mata saja jatuh saat itu, ia akan bertambah malu.
Langkah terbaik ia ambil, segera pergi meninggalkan meja makan, masuk dan menutup kamar, menguncinya dengan rapat dan membiarkan tangisnya pecah. Hari-hari berikutnya, bulan-bulan berikutnya, tahun-tahun berikutnya, ia tetap begitu, banyak lelaki yang dekat tapi segera pergi. Hingga suatu waktu, pada dini hari yang senyap, ia berkeinginan untuk memperbaiki perbuatannya, sejenak ia melirik kalender dan menggeleng saat ingat umurnya sudah hampir empat puluh.
Rumah FilzaIbel, 2022.
ilustrasi: umar samarta.
