Riwayat Si Kembar

“Mestinya kau berpikir cermat, ayahmu bekerja hanya sebagai penarik becak yang perolehannya tak seberapa. Dibuat biaya sehari-hari saja nyaris tidak cukup. Tapi kamu selalu minta uang banyak kepada ayahmu secara paksa hanya untuk beli perawatan tubuh. Celakanya, itu semua kau gunakan sendiri, tak pernah kau sudi dipakai bersama dengan Sinta.”

Erni lantas balik meninggalkannya, menduga kata-katanya tadi akan jadi cemeti yang bisa memecut kesadarannya. Tapi yang Sunti rasakan tidak demikian. Ia tetap menganggap kata-kata ibunya adalah angin.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

#

Seperti hari-hari sebelumnya, Sunti baru datang ke ruang makan saat semua makanan sudah terhidang di atas meja. Kalaupun datang agak awal, yang ia lakukan hanya nyanyi-nyanyi di kursi—kadang—sambil menunggu semua makanan purna terhidang. Sudah mau copot mulut Erni yang selalu mengulang hal yang sama; menyuruhnya membantu menyiapkan makanan sebagaimana Sinta.

“Ini bukan surga, Sun. Sebelum makan, harus ada usaha dulu, setidaknya bantu ibu memasak, atau jika tidak begitu, bantu menyiapkan makanan. Jangan langsung hanya duduk di kursi dan selesai makan pergi begitu saja,” pagi itu Erni kembali menyarankannya meski ia sendiri sebenarnya hampir putus asa berurusan dengan Sunti.

“Coba lihat Sinta! Dia sampai keringatan bantu ibu sejak memnyiapkan bahan, memasak, menghidang makanan, bahkan sampai nanti bantu cuci piring. Sedang kamu…”

“Cukup, Bu! Jangan bandingkan Sunti denganku,” celetuk Sinta, menyeka peluh membutir di keningnya. Sementara Sunti masih menatap layar HP. Bibirnya bergerak dengan suara lirih, meniru lagu yang didengarkannya.

“Kalau Sinta memang harus seperti itu, Bu. Dia lebih jelek dariku, nanti pasti akan dapat suami orang yang agak sengsara juga,” gumam Sunti di sela diamnya yang tak peduli nasihat ibunya.

“Belajarlah untuk sedikit sulit dan sibuk, Sun. Biar nanti tak terkejut saat dalam kehidupanmu ada kesibukan atau kesulitan. Hidup ini tak mungkin lapang terus dengan hanya dihadapi bersantai ria di atas kasur dan kursi. Ingat itu, Sun!” Erni menuding ke wajah Sunti.

Saat sedang berkumpul bersama, ketika nonton TV atau ketika rileks di beranda sore-sore, tanpa ada yang meminta, Sunti akan bercerita banyak hal mengenai dirinya yang seolah-olah selalu hidup dalam garis keberuntungan.

Ia bercerita tentang dirinya yang selalu diajak foto bersama oleh teman-temannya demi nebeng kecantikan yang ia miliki, potret dirinya yang selalu terpilih sekolah sebagai gambar brosur, keramahan banyak lelaki yang kerap mengaguminya, hingga pada cerita tentang pekerjaan tersulitnya untuk memilih satu lelaki di antara banyak lelaki tampan yang mendekatinya.

Sinta dan ibunya tetap diam mendengar cerita itu. Ibunya masih duduk sedikit membungkuk dengan gerai helai rambut yang tersingkap ke samping kepalanya, sedang di belahan singkapan rambut itu, tangan Sinta masih setia menyusur pelan, memungut kutu-kutu yang kadang berusaha sembunyi ke pangkal rambut yang rimbun. Meski keduanya tak merespons cerita Sunti, tapi Sunti terus melanjutkan ceritanya dengan suara nyaring, diselingi tawa kecil, merasa cerita itu akan dikagumi oleh Sinta dan ibunya, padahal Sinta dan ibunya selalu membincangkan kutu-kutu dan hal lain demi—sengaja—abai pada cerita Sunti.

#

Tinggalkan Balasan