Di lembar awal buku, Karen Amstrong membuka dengan ungkapan puisi seorang guru mistik Asia bernama Timur Zhang Zai:
Langit adalah ayahku
Bumi adalah ibuku
Dan bahkan mahkluk kecil seperti diriku
Menemukan tempat hangat di antara keduanya.
Maka, apa-apa yang mengisi semesta
Kuanggap tubuhku
Dan apa-apa yang mengarahkan semesta
Kuanggap alamku
Semua manusia adalah saudaraku, dan
Semua yang ada (di alam) sahabat-sahabatku.

Puisi tersebut mewakili ajaran-ajaran para filsuf mistik di Asia Timur yang lebih dekat pada tradisi monistik: Zen Budhis, konfusius, hingga Jalan Dao dalam ajaran Laozi.
Namun, pada kesimpulannya, ajaran-ajaran tersebut memiliki kesamaan dalam memandang kesatuan alam. Satu di antaranya apa yang disebut wanwu (hal-hal), yaitu “kita harus memperlakukan seluruh yang ada di alam, sebagaimana kita sendiri ingin diperlakukan, sehingga kita bisa berbagi daya hidup yang sama dan terhindar dari kerusakan (hlm, 35).”
Hampir di setiap bab dalam buku ini, Karen Amstrong mengawalinya dengan ungkapan “Jalan ke Depan”. Saya menangkapnya sebagai visi dari kekudusan ajaran-ajaran agama yang telah dielaborasi dan diekstraksi. Artinya, visi dari agama tersebut berbeda dengan para ilmuwan futuristik yang melawat dan menanggalkan masa lalu untuk menuju masa depan. Ia telah menghilangkan elemen terdasar alam semesta dalam keteraturannya yang mengandung paradoks.
Sementara, Jalan ke Depan dalam agama-agama justru berbalik arah ke belakang sebagai caranya bergerak; artinya, ia telah menyadari dan menerima elemen terdasar dari alam semesta, yaitu paradoks yang justru sebagai elemen penggerak keteraturan, dan terciptanya keharmonisan hidup itu sendiri.
Dengan makna lain, selama kita tidak menyadari dan menerima paradoksal alam dunia, kita akan terjebak pada kebenaran yang seolah bertentangan satu sama lain.
Satu hal yang menjadi poin penting dan ditekankan dari keseluruhan bab dalam buku ini adalah penghormatan kepada alam. Karen Amstrong menilai hilangnya penghormatan pada alam seiring dengan penghormatan manusia pada manusia itu sendiri.
