Sacred Nature: Memulihkan Kembali Manusia dan Alamnya

Agama (Abrahamik) secara gamblang memberi keterangan sejak awal penciptaan Adam, bahwa Bumi ini diciptakan untuk manusia, namun bukan berarti manusia adalah yang paling berhak atas segala isinya. Manusia merupakan mahkluk Tuhan di Bumi yang diberi akal, namun sekaligus menghimpun keseluruhan elemen Bumi.

Dalam pengertian lain, manusia pada dasarnya memiliki elemen yang sama sebagaimana tumbuhan dan hewan. Perbedaannya, manusia memiliki akal budi dan jiwa. Perbedaan akal budi dan jiwa inilah yang menjadikan manusia memiliki fungsi lebih agung dari hewan dan tumbuhan. Sebab, akal budi ada untuk menjaga keteraturan semua elemen-elemen Bumi agar tetap terus terjaga.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Hal tersebut kemudian yang mendasari para teoritikus etika lingkungan (environmental ethics) di era kiwari, yaitu ingin mengembalikan hal itu, bahwa alam; pohon, sungai, laut, tumbuhan, hewan, dan sebagainya memiliki hak sebagaimana manusia yang hidup atas kebutuhan darinya. Maka bersikap hormat pada alam akan mengembalikan manusia akan penghormatan pada dirinya sendiri (kemanusiaan).

Dalam konteks itulah agama memiliki andil besar secara teleologis sejak awal penciptaan Adam, dan masih akan relevan dalam menyeru umat manusia yang berakal budi untuk bersikap hormat pada alam, sebagaimana ia sebagai manusia ingin dihormati.

Sebagai penutup, penghormatan pada alam di abad sebelum modern sebenarnya sudah terjadi di hampir semua kebudayaan. Terlebih di Indonesia, penghormatan itu bahkan sudah dipertemukan antara agama (Islam) dan budaya melalui beragam ekspresi selametan atau syukuran.

Artinya, di Indonesia ritual penghormatan pada alam sudah masuk pada wilayah inti dari ajaran agama untuk mengesakan Tuhan (tauhid) lewat jalan tradisi atau pembiasaan. Yang menjadi problem hari ini, tradisi itu tergerus oleh kehidupan modern dan perlahan hilang karena tidak dimengerti oleh nalar modern.

Maka untuk memulihkan manusia dan alam, alih-alih melakukan pemulihan alam yang rusak oleh eksploitasi kapital, Karen Amstrong justru mengajak untuk lebih mengakrabi diri sebagai langkah awal memulihkan dan memahami alam itu sendiri.

Data Buku:

Tinggalkan Balasan