Sami`na wa `Ashoyna

Salah satu lahan subur tumbuhnya budaya ini adalah pesantren. Para santri kerap kali terjebak dalam anomali ini. Mereka beranggapan tidak sepantasnnya untuk menkritik atau membuat sebuah penilaian terhadap orang yang berwenang dalam birokrasi pesantren, yang dalam hal ini adalah kiai dan seluruh kaki tangannya yang bertugas sebagai legislatifnya pesantren. Para santri akan lebih memilih diam atau patuh terhadap apa yang terjadi, walau terkadang hal itu mencerabut haknya. Daripada mengutarakan isi hatinya dengan risiko mendapat konotasi sebagai santri yang tak tahu diri atau nakal.

Sami`na wa `Ashoyna

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Konsekuensi logis dari masuknya “benalu” tersebut pada sistem pendidikan pesantren adalah lahirnya manusia-manusia yang serba patuh, taat, takut, dan memiliki mental pengecut, pemikiran tidak kritis, serta tidak memiliki prinsip diri yang kuat. Semuanya tergantung dengan superior, dan semua ini bukanlah goal atau tujuan dari pesantren.

Maka dalam hal ini, kita tersadar bahwa moral dan logika (intelektual) harus berjalan secara bersamaan. Salah satu tertinggal, maka kesenjangan itu akan berakibat pada anomali.

Seorang santri sah-sah saja patuh terhadap birokrasi pesantren, dan itu merupakan sifat yang terpuji. Namun, harus tetap meletakkan akal pada tempatnya. Ketika aturan atau perintah tidak sesuai dengan isi hatinya, santri juga punya hak untuk mengutarakan pendapatnya. Maka ada istilahnya yang berbunyi; “Sami`na wa `Ahoyna” (Iya, kami dengar tapi mohon maaf ya, saya punya pendapat yang berbeda).

Tinggalkan Balasan