Ungkapan sami`na wa atho`na bukanlah hal yang asing di dunia pesantren. Ungkapan yang berartikan kesiapsediaan seorang santri dalam menjalankan apa yang diperintahkan kepadanya. Salah satu bentuk moral yang diajarkan dalam dunia pesantren adalah patuh terhadap orang yang lebih tua atau lebih atas dari padanya. Sifat ini tentunya sangat mengagumkan.
Atmosfer pesantren yang serba peraturan membuat santri dilatih untuk menjadi pribadi yang hormat dan patuh terhadap regulasi dan peraturan, dengan harapan latihan ini berbuah pada kapabilitas santri dalam mengekang hawa nafsunya .Dan santri yang tidak mau mengikuti aturan dan melanggarnya akan mendapatkan konotasi dari lingkungannya sebagai pribadi yang nakal dan bandel, sehingga santri yang tahu akan hal ini lebih memilih “sami`na wa atho`na” (oke, kami dengar dan laksanakan!)

Budaya Bisu
Paulo Freire, bapak revolusi pendidikan Brazil, mengenalkan istilah “budaya bisu”, yaitu sebuah anomali dalam kehidupan masyarakat, khususnya dalam pendidikan. Freire mendefinisikan “budaya bisu” ini sebagai keadaan sosio-kultural sebuah komunitas yang bercirikan ketidakberdayaan (incapacity) dan ketakutan umum untuk mengutarakan pendapat dan perasaannya. Sehingga, “membisu” nyaris dianggap sesuatu yang sakral, sikap yang sopan, dan harus ditaati. Budaya ini masih sangat mengakar dalam kehidupan masyarakat di era modern ini.
Budaya ini memiliki pengaruh yang besar dalam psikologi masyarakat yang terjerat dalam praktik kebudayaan bisu ini. Seperti, mereka beranggapan bahwa mereka tidak memiliki kapabilitas secara intelektual dalam mengungkapkan dan mengutarakan pendapat. Pada akhirnya mereka lebih memilih diam yang menurutnya tidak berisiko sebagai jalur alternatif dari pada mengutarakan pendapat dan akan disalahkan dan dijelek-jelekkan.
