Sanad, Ilmu, Sastra: Dialektika Tradisi Pesantren

إن عدوا واحدا كثير            وألف خل آلف يسير
موسو ستوغ فس مسلاء كرسنه   سإيبو كمجه سي أكور جئ لكانه
وافرح أخي لفرح العشير     واحزن لحزنه بالاستبشار
نورؤ بوغا لمون كنجنه بوغا         نورؤ سوسا مون سوسا سمبي فبوغا
Puisi dwibahasa Arab-Madura karya K.H. Muhammad Habibullah bin KH Rais Ibrahim, Tarbiyyatu ‘s-Shibyân. Sumenep: Pondok Pesantren Al-Is’af, t.th., h. 11

Akhirnya kita menyaksikan ledakan kata-kata di dunia santri yang tak terbendung. Ruang-ruang yang dahulu dibatasi oleh dinding pesantren dan surau, kini melebar tak terkira di hamparan digital. Setiap hari, kita disesaki oleh unggahan kitab yang di-scan, rekaman pengajian yang berseliweran, artikel-artikel tasawuf yang viral, dan diskusi fikih yang panas di kolom komentar. Kata-kata, yang dahulu mengalir tenang dalam sorogan dan bandongan, kini meledak-ledak dalam bentuk status, cuitan, dan reel. Ledakan ini bukan sekadar perpindahan medium belaka. Ia menandai satu evolusi dan transformasi mendasar dalam arsitektur epistemologi pesantren —cara pengetahuan itu dibangun, diakses, dan disebarluaskan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dahulu, pengetahuan itu bersifat hierarkis, terukur, dan tersaring melalui guru yang menjadi gerbang tunggal. Kini, ia menjadi datar, instan, dan terbuka untuk siapa saja. Perubahan fondasi pengetahuan ini, lambat laun namun pasti, sedikit-banyak berimplikasi pada perubahan desain tradisi pesantren secara keseluruhan. Tradisi yang tegak di atas prinsip ittibâ‘, mengikuti jejak dengan kesadaran akan rantai keilmuan, kini dihadapkan pada banjir informasi yang sering kali terputus dari sanadnya. Di tengah gemuruh kata-kata yang membanjiri layar kita, di situlah kerinduan yang paling dalam justru muncul: kerinduan akan keheningan untuk merenungkan, bukan sekadar menelan; kerinduan akan kedalaman yang hanya bisa diraih melalui perjalanan panjang, bukan kecepatan scroll; dan yang terpenting, kerinduan akan sebuah sanad —sebuah tangan yang terhubung ke tangan lainnya, membentuk rantai hangat yang menyambung kita ke sumber cahaya.

Tetapi yang lebih penting kita renungkan sekarang bukan sekadar ledakannya, melainkan formasi baru yang mengkristal dari hamburan kata-kata yang beterbangan itu. Sebuah lanskap epistemik yang belum pernah sepenuhnya terpeta di dunia santri tradisional. Dalam sepuluh hingga dua puluh tahun terakhir, ledakan ini tidak berjalan dalam satu jalur tunggal. Ia terjadi di dua ranah sekaligus yang sama-sama produktif, saling melengkapi namun kerap juga bersitegang: ranah intelektual dan estetik, wilayah diskursif dan ruang emotif. Di satu sisi, kita melihat produktivitas diskursif yang luar biasa: artikel jurnal, karya-karya akademik, buku-buku kritik, podcast kajian filsafat Islam, dan thread Twitter yang membedah konsep-konsep rumit dengan bahasa pop. Ini adalah letusan kata-kata yang bernalar, yang ingin menjelaskan dan mempengaruhi pikiran.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan