Ia tak peduli pada sindiran santri-santri lain untuk mengganti sandal jepitnya. Ia tetap bersikukuh memakai sandal itu dengan tabah, merawatnya seperti merawat tubuh sendiri, dan tak pernah terpikirkan olehnya untuk menggantinya dengan sandal baru. Sandal itu menemaninya setiap saat. Sandal itu adalah tempat paling nyaman untuk kakinya berpijak. Sebab, sandal itu adalah pemberian dari sang Bapak.
Sang Bapak telah lama tak datang. Ia kerap menitikkan air mata di kamar mandi. Sebab, tak kuat menahan perihnya rindu. Kadang ia juga berpikir, Bapak tak lagi sayang padanya. Namun, secepat mungkin pula ia tepis pikiran itu. Sebab, ia tahu Bapak sangat sayang padanya. Kalau tidak, mana mungkin sang Bapak memberinya sebuah sandal jepit, sebagai pengganti kedudukan sang Bapak.

Oh, sungguh malang nasib Ramal, anak dengan sandal jepit kumal itu. Ia tak tahu harus menunggu sampai kapan lagi kedatangan sang Bapak. Sang Bapak tak kelihatan batang hidungnya lagi. Sandal jepit itu adalah hadiah terakhir dari Bapak, dan Bapak telah menyelipkan kenangan pada sandal itu. Bapak tak datang-datang, dan barangkali memang takkan datang.
***
“Pembohong!” kala aku masih di pondok pesantren, itulah kata-kata yang sering keluar dari bibirku. Aku sangat merindukan Bapak kala itu. Aku tak tahu mengapa ia tak datang-datang, dan benar, ia memang tak pernah datang menjengukku. Apakah ia melupakanku? Mustahil.
Pak, masih kusimpan sandal jepit pemberianmu. Namun sayang, talinya telah putus dan tak dapat kuperbaiki lagi. Alasnya telah retak, masih untung tak menjadi kepingan-kepingan. Masih kuingat kala itu, sandal jepit itu adalah barang satu-satunya yang harus kujaga. Sebab, sandal jepit itu adalah kado terakhir darimu.
Dulu, beberapa kawan-kawanku sempat ingin menyingkirkan sandal itu. Mereka diam-diam mengambil sandalku, dan dibuang ke tempat sampah. Alasannya sangat sederhana, mereka ingin aku membeli sandal baru. Sepertinya mereka iba pada sandalku yang sudah lama menuntut masa pensiun.
Ketika aku bangun, aku sudah tak menemukan sandal jepit kesayanganku itu. Aku telah mencarinya ke tempat sampah, tapi tak kutemukan. Sebab, kawan-kawanku telah menutupi sandalku dengan sampah-sampah lainnya. Aku menangis sangat lama, seperti anak kecil yang meminta sesuatu.
Tangis super iritku mengundang perhatian para pengurus. Mereka menanyakan penyebab tangisanku. Kujawab, ada yang mencuri sandalku. Maka dikumpulkanlah seluruh kawan-kawanku. Mereka diinterogasi. Dengan sangat berat hati, mereka pun mengembalikan sandalku itu. Aku senang bukan alang kepalang mendapati sandalku lagi. Dan sejak saat itu, mereka jera memisahkan aku dengan sandalku.
Ha, sungguh kenangan yang indah. Maka telah kuputuskan, Pak, aku juga akan memondokkan anakku ini. Aku ingin anakku merasakan apa yang kurasakan dulu. Kecuali satu, Pak. Aku takkan meninggalkan anakku, seperti kau meninggalkanku. Dan aku takkan membohongi anakku, seperti kau membohongiku.
Entahlah, kenapa dulu kau tega meninggalkanku. Membuatku berperang dengan rindu yang menyayat. Kupikir kau sudah mati, ternyata kau masih cengar-cengir ketika kelulusanku dirayakan. Kau datang di upacara kelulusanku, membuatku menangis, sebab senang bisa berjumpa denganmu.
Pak, aku tak tahu kau melakukan perihal itu untuk apa. Namun yang kutahu, sebab sekarang aku juga menjadi seorang bapak sepertimu. Setiap orang tua pasti punya rahasia. Benarkah, Pak?
