“Begini saja, kamu mau memilih salah satu dari tawaran jamaah, atau…?” Pak Kiai menghentikan ucapannya.
“Iya, saya memilih yang kedua.”

“Oh begitu, baiklah,” sahut Pak Kiai dengan senyum lega.
Kisah itu sudah 30 tahun berlalu. Saat ini, Mbah Azwan lebih memilih menghabiskan hidupnya di sebuah gubuk yang ia bangun di lereng bukit, menyepikan diri. Sesekali anaknya mengirim bekal makan untuk muazin tua itu. Berkat Mbah Azwan, akhirnya posisi muazin di desa Kaligadung tak diremehkan lagi. Hanya orang-orang terpilih yang bisa mengisinya. Dan masyarakat desa selalu menaruh hormat pada orang yang menjabat posisi tersebut.
Suatu ketika, anak Mbah Azwan ingin mengirim sebuah perbekalan. Dalam perjalanannya, ia sering disapa oleh orang-orang yang kebetulan sedang mengumpulkan kayu di hutan, atau sedang menuju ke ladang.
“Nis, mau antar makanan ke Abah?”
“Iya, buat berbuka nanti sore.”
“Oh iya, hati-hati.”
Biji jatuh memang tak jauh dari pohonnya. Nisa juga menjadi primadona desa seperti orang tuanya dulu. Sikapnya yang santun, suaranya yang lembut, wajahnya yang manis, membuat tiap orang di sana ingin menjadikannya bagian dari anggota keluarga mereka. Namun, kembang desa itu diisukan tengah dekat dengan Fajri, muazin saat ini. Dia adalah lulusan dari Kairo, sekaligus menjadi seorang dosen di universitas yang ada di kota madya.
Dalam perjalanan Nisa bertemu Bahru, seorang berandal yang terkenal menyukai minuman keras dan kekerasan. Orang-orang kampung tak pernah menyukainya. Terlebih wataknya yang tak suka diperintah. Dia juga terkenal suka membawa anak gadis orang. Sejenak langkah Nisa terhenti. Bahru menatapnya dalam keadaan sedikit mabuk. Dan Nisa mematung karena imajinasinya sendiri. Tak lama, Pak Sobar yang sedang mengumpulkan kayu melihat mereka. Dia menghampiri Nisa.
“Ayo, Ning, lewat saja.”
“Baik, Pak,” tapi sejenak pandangan Nisa masih tertuju pada pemuda itu.
