Sang Muazin Turun Gunung

Nisa datang ke sekian kali untuk bertemu dengan ayahnya. Dia disambut dengan senyum sumringah Mbah Azwan. Mereka bercerita berbagai hal, termasuk keadaan anak gadisnya itu di kota. Mereka berdua sampai lupa waktu. Tak terasa maghrib akan tiba. Tapi Nisa ingin sedikit lebih lama menghabiskan waktu dengan ayahnya.

Nyai Khumairah sedikit mengkhawatirkan anaknya yang tak kunjung pulang. Kebetulan beliau berpapasan dengan Pak Sobar. Dia menceritakan apa yang dia lihat tadi sebelum petang. Rasa khawatir Nyai Khumairah semakin menjadi. Dia mengumpulkan beberapa warga untuk mencari keberadaan Nisa yang saat itu sudah berjalan pulang. Termasuk, Fajri yang telah menyiapkan pentungan dan senter untuk berjaga-jaga. Kumpulan warga itu bertemu Bahru yang sedang mematung di depan masjid. Alhasil, warga yang mendengar cerita dari Pak Sobar menuduh Bahru melakukan sesuatu pada Nisa.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Apa yang kamu lakukan dengan Nisa?”

“Ah, peduli setan. Aku tak melakukan apa pun.”

“Kamu pasti bohong, kan!”

Warga yang gelap mata melayangkan pukulan terhadap pemuda itu. Tak terkecuali dengan Fajri, yang menyangka bahwa wanita idamannya telah dinodai.

Pemuda itu terkungkung di depan masjid dengan luka lebam dan kepala bocor. “Tuhan, apa salah saya. Bahkan bertobat pun tak kau perbolehkan,” gumamnya.

Warga yang masih tak mendapat jawaban terus saja melayangkan pukulan. Sampai tubuh pemuda itu tak lagi bergerak. Napasnya mulai tersengal, dan warga meninggalkannya.

Bayangan Nisa mulai terlihat dari balik hutan. Langit juga mulai membiru, maghrib mulai mendekat. Warga lega karena Nisa telah ketemu. Saat warga akan kembali ke rumah mereka dan melintas di depan masjid, ada sosok yang duduk di samping tubuh Bahru yang terkapar. Saat mereka mendekat tampaknya sosok itu tak asing.

“Siapa yang menyuruh kalian melakukan hal ini,” mereka terkaget. Mbah Azwar tiba-tiba muncul di sana.

“Bila tak ada yang bersaksi pada pemuda ini, aku yang akan jadi saksinya!”

Ucap Mbah Azwan terdengar lantang. Emosinya tak terbendung lagi. Semua tersirat di nada suaranya. Belum pernah masyakarat melihatnya semarah ini. Tak ada yang berani menatapnya, bahkan menyanggah omongannya. Dia lalu berbalik arah membopong jasad pemuda itu sendirian.

Tinggalkan Balasan