Anaknya sesenggukan menutup matanya yang basah, “Aku paham, Pak! Situasi masa lalu berbeda dengan kini.”
Bapaknya mendesah kesekian kali. Ia coba menenangkan anaknya dengan mengganti topik pembicaraan. Ia ingin anaknya melupakan perihal kesedihannya. Ia juga menyesal kenapa menceritakan masa kelam bersama istrinya (dulu).

“Kamu mahasiswa. Pernahkah kamu ikut demo seperti di tivi-tivi itu, Nak. Rasanya bukan mahasiswa kalau tidak berdemo,” si bapak mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Iya, pernah, Pak. Beberapa kali. Ada dua stigma yang mengalir. Ketika terjadi problematika birokrasi, jika tidak ada demo, akan muncul pertanyaan, ‘di manakaha mahasiswa?’ Namun, ketika kami sedang berdemo, dating cibiran, ‘mahasiswa kok demo, urus saja kuliahmu dengan benar. Ingat, orang tuamu yang mati-matian membayar.’”
Anaknya tampak gusar, iktikaf sebentar sebelum meneruskan.
“Mahasiswa adalah generasi penerus bangsa. Sama dengan bapak dulu mungkin. Sosialis, nasionalis, dengan lagu ‘Bagimu Negeri’ kami maju, dengan lagu ‘Bangulah Pemuda-Pemudi’ kami bergerak, tentu saja sumpah mahasiswa dan marsnya menjadi wajib!”
Bapak tersenyum, “Mahasiswa adalah pemuda. Iya pemuda artinya orang yang masih berjiwa dan berdarah muda.Tapi, ada juga mahasiswa yang tidak senasionalis dan sesosialis kamu.”
“Maksud, Bapak?”
“Iya tidak hanya mahasiswa, tapi tentang pemuda tadi. Orang yang masih muda. Bapak melihatnya miris. Joget di media sosial, mabuk, narkoba, melakukan maksiat di kosan atau kontrakan, sibuk bikin update status, konten-konten gokil. Sosialis berganti komersilis, idealis-nasionalis tersisih matrealis. Meski tidak sepenuhnya salah.”
“Benar, Pak! Banyak dari kami yang seperti itu. Baik mahasiswa atau bukan, tapi pemuda sekarang banyak yang sudah hilang rasa.”
Bapaknya yang puitis kembali melakukan flash mob tak terduga, berpuisi dengan lantang di pelataran sanggar tepat di tengah warung-warung kopi yang mengelilinginya,
“Mata air kami, adalah air mata
Air mata..tanah air kami
Tanah kami, adalah air mata,
yang menjadi tanah air kami
Perpustakaan sepi, mall ramai
Sanggar seni sunyi, pemuda cangkruk di warung kopi
Topik bicaranya, adalah kekinian yang viral
Bukan lagi tema kebangsaan atau feodal
Main gadget, sambat dan pamer di status
Menjadi bumbu penyedap zaman yang tergerus”
Sekali lagi, pengunjung warung kopi di sekitar sanggar tempat anak dengan bapak bercengkrama kaget, terbengong dengan ulah bapak, kemudian memberikan applause lagi, setelah itu kembali pada posisi awal tadi.
Malam ini memang unik. Pertemuan anak dengan bapak “asli” menjadi kisah yang pantas untuk diceritakan, setidaknya oleh induk burung yang kembali kepada anak di sangkarnya nanti.
Anaknya semakin tertarik dengan keunikan bapaknya, “Pemuda, dia mencari ilmu, di sekolah, kampus, terkadang hanya formalitas, alasan untuk cari kerja menjadi utama. Ilmu tidak dianggap sakral, tidak dianggap sebagai bahan yang dikaji atau diuji.”
Bapaknya senang, anaknya nyambung dengan tafsir di benaknya, “Pemuda remang-remang…”
“Maksudnya, Pak?”
“Sisi lain ingin menonjolkan diri, ingin menyuarakan, demonstrasi tadi misalnya. Merasa sebal dan marah terhadap keadaan pertiwi, menyalahkan masa depan yang takut nanti menjadi muram. Tapi apa? Ia sendiri menikmati kebodohannya dengan santai, remang-remang bukan?”
Anaknya tersenyum, mengiyakan. Ia kagum dengan pemikiran bapaknya. Absurd namun masih ia pahami.
Bapak melanjutkan, “Kampus telah banyak melahirkan sarjana hukum, tapi hukum di negeri ini banyak yang dikhianati. Ada ribuan mahasiswa dengan ilmu ekonomi, tapi menjadi nganggur sementara korupsi makin marak di negeri ini. Mahasiswa dan pemuda menjadi alat, alat industri dan birokrasi. Universitas pencetak guru, guru pencetak pejabat juga penjahat. Dualisme!”
“Adakah yang bisa kami lakukan sebagai pemuda dan mahasiswa, Pak?” tanya anaknya kemudian.
“Ingat Sumpah Pemuda?”
“Ingat, Pak!”
“Hakikatnya, yang bapak maksud.”
“Tentang tiga poin, itukah maksudnya, Pak?”
“Iya. Kembalilah ke Sumpah Pemuda. Itu bukan sumpah yang sampah!”
