Sanggar Terakhir

“Sumpah sampah? Semakin tidak mengerti anakmu, ke mana arah Bapak bicara.”

“Bertanah air, berbangsa, dan berbahasa semua untuk persatuan Indonesia.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Detailkan lagi, Pak. Anakmu belum jelas mengerti.”

“Tanah menjadi pijakan, air untuk menyirami kehidupan, maka hargailah. Berbangsa, bahwa kita adalah terdiri dari banyak bangsa, jadi akui eksistensinya jangan beranarki dengan alasan beda.”

“Mulai paham, anakmu. Lalu, tentang bahasa, Pak?”

“Lebih vital lagi. Bahasa adalah kepribadian. Menunjukkan karakteristik. Bahasa lisan bahasa tulisan, apa pun. Gunakan bahasa yang menyatukan, bukan bahasa sampah!”

“Bahasa yang menyatukan? Ehmm… menarik untuk ditelisik.”

“Bahasa yang tersusun, yang bermakna dengan bentuk kesantunan. Jarang aku melihatnya pada diri pemuda sekarang.”

“Peralihan zaman dan pergantian kebiasaan, jelas kami terpengaruh karenanya!”

“Pembenaran!!Sekadar dalih, memburamkan kebenaran! Pemuda, meski tidak semuanya, menjadi pemuda viral bukan pemuda andal, pemuda abal-abal bukan pemuda fenomenal, apalagi… pemuda gagal bukannya pemuda berakal dengan spirit terkepal..,” si bapak menyudahi ceramahnya.

Anaknya yang sedari tadi membawa gitar, dengan pelan membawakan lagu akustiknya, bernyanyi di pinggir jalan sambil ditatap bapaknya.

Kepada para mahasiswa

Yang merindukan kejayaan

Kepada rakyat yang kebingungan

Di persimpangan jalan

Kepada pewaris peradaban
Yang telah menggoreskan
Sebuah catatan kebanggaan
Di lembar sejarah manusia
Wahai kalian yang rindu kemenangan
Wahai kalian yang turun ke jalan
Demi mempersembahkan jiwa dan raga
Untuk negeri tercinta

Semua pengunjung terkesiap untuk kesekian kali. Tampak beberapa anak muda berdiri spontanitas. Mengangkat tangan kiri dengan tergenggam, ikut menyanyikan. Suasana merinding. Heroik.

Setelah anak mengakhiri petikannya, berkatalah ia kepada bapaknya.

“Lihatlah, Pak. Beberapa pemuda di sana masih memunyai semangat itu. Beberapa masih mengenal lirik lagu itu.”

“Iya, bapak tahu. Beberapa saja, pemuda baru semoga tetap dengan semangat yang sama.”

“Dan pesimis bapak adalah sebuah skeptik masa lalu.”

Bapaknya tercengang, “Maksudmu, Nak?”

“Sering yang jauh, seperti kebenaran yang Bapak perjuangkan, terasa dekat. Namun, upil di hidung sendiri, kadang tidak tampak sama sekali.”

“Introspeksi, itukah maksudmu?”

“Keinginan bapak memertahankan idealisme suara kebenaran pertiwi, berbanding terbalik dengan upil bapak.”

“Apakah itu, Nak?”

“Mempertahankan keutuhan keluarga.”

“Iya… Semakin menyakitkan anakku. Sanggar ini telah dibeli, akan dijadikan mini market. Kebutuhan untuk menyambung hidup, dua kali aku dikalahkannya!”

Bapak dan anak sama-sama terdiam. Lama terdiam. Masing-masing menerawang, pada asanya masing-masing.

Dari kejauhan, tiba-tiba terdengar kegaduhan. Tampak mobil pick-up dengan Satpol PP mengobrak-abrik warung-warung kopi sekitar trotoar jalan. Para pedagang kalang kabut. Pengamen, pengemis, berlari menghindar takut ditangkap Satpol PP yang sedang merazia.

“Ayo bubar! Mengganggu stabilitas negeri saja! Bubar! Angkut dagangannya! Angkut juga orangnya,” teriak komandan Satpol PP kepada anak buahnya.

“Maukah kamu lari denganku, Nak?” si bapak meminta kepada anaknya.

“Tapi, kita tidak salah pak. Kita bukan pengamen atau pemilik warung kopi.”

“Lari tidak menunggu salah. Lari saja,” si bapak segera menarik lengan anaknya dan mengajaknya berlari menghindari kejaran Satpol PP. Ketika berlari, sang anak bertanya lagi, “Apa yang bapak cari dari berlari ini?”

“Sensasi!”

Tinggalkan Balasan