“Wa’alaikum salam. Doa Ibu menyertaimu. Kembalilah bersama kemenangan!”
***

Sehabis salat Subuh. Kiai As’ad mengumpulkan para pelopor. Masing-masing mereka tampak membawa sebilah keris, belati dan celurit yang menyembul di balik pakaian hitamnya. Beliau bersama mereka menyusun taktik untuk menghadapi Belanda dengan bergerilya. Aku yang bersenjata selonjor bambu runcing berada tak begitu jauh dari mereka. Hingga begitu jelas kudengar percakapan beliau bersama para pelopor.
“Belanda kembali memperkuat markas yang sebelumnya telah dikuasai Jepang.”
“Betul. Mereka membawa kapal perang, tank, truk, dan panser.”
“Kita ambil saja senjata Belanda di gudang Dabasah Bondowoso.”
“Baik. Karena Belanda sudah berada di Pasir Putih dan sedang menuju kemari. Kita tak mungkin lewat jalan raya. Kita harus menerobos ke dalam hutan. Kita menyamar. Ayo kita berangkat! Bismillah, Allahu Akbar!” ujar Kiai As’ad mengakhiri percakapan.
Kami bersama Kiai As’ad berangkat dari Sukorejo, Asembagus, ke Desa Bayeman, melewati beberapa dusun, curah, lereng, menyeberangi sungai yang deras, lantas menerobos hutan sampai ke Puloagung, terus ke Desa Dabasah di Bondowoso, gudang mesiu Belanda, dekat alun-alun kota.
Kami melewati seratus desa. Namun, tak lupa kami istirahat sejenak dan menunaikan salat. Dalam perjalanan yang ditempuh saat bulan Ramadhan tersebut terlalu banyak rintangan. Harus lewat tebing yang curam, kandang binatang buas. Sempat pula menjumpai ular piton besar. Bahkan, sebagian kami mendapat perlakuan kasar dari penduduk setempat lantaran dicurigai pencuri ternak.
Setelah kami tiba di Desa Dabasah, Kiai As’ad mengadakan rapat di kebun tebu demi mengatur strategi. Beliau mulai membagi tugas dan menyebarkan azimat agar kami mudah menyelinap ke gudang mesiu. Tak lupa beliau mengedarkan minyak kidang kencana agar kami kebal dari senjata api dan senjata tajam.
Serta berkat sepotong lidi pemberian Kiai As’ad, aku beserta anggota pelopor yang hendak mendekati gudang tak mampu dilihat pasukan Belanda. Beliau juga memberi azimat kepada sebagian kami untuk membuka kunci gembok gudang, sekaligus untuk menidurkan pasukan Belanda yang sedang berjaga.
Misi pun tercapai tanpa aral yang berarti. Aku dan para pelopor telah mengambil dua puluh empat senjata api dan amunisi, termasuk senapan jenis bren, mortir, serenteng peluru tajam dan granat. Sebagian pejuang pelopor lalu menghabisi para penjaga gudang senjata. Mereka histeris sebab menyangka bahwa temannya telah dibunuh hantu. Mereka pun menembak dan melemparkan granat secara membabi buta, tak tentu arah, karena mereka tak kuasa melihat segelintir pun dari kami.
Dari balik pohon dekat alun-alun aku berlari bersama barisan pelopor. Aku berupaya melaju cepat meski sedang puasa, walau sahur hanya seteguk air. Terus terpacu sekalipun penglihatan mulai memudar. Tak kuhiraukan meski peci yang kupakai copot dari kepala. Aku ingat, di peci ada azimat dari ibu. Peci itu sudah jauh terempas. Tiba-tiba bayangan ibu menggelayut dalam pikiran. Firasat buruk dan rasa iba akan ibu merasuki jiwa. Sesuai berita yang beredar sebelum aku berangkat, Belanda hendak mengepung pesantren dan bermaksud membakar rumah warga sekitar dengan dalih mencari gerilyawan. Wajah dan air mata ibu kian lekat dalam benak. Aku makin berlari kencang hingga tanpa sadar tubuhku ambruk, kepala perih, tulang-tulang ngilu, dan pandangan mataku pun tiba-tiba gelap. Sontak, kelebat bayangan ibu lenyap.
***
“Di manakah aku? Tempat apa ini? Tak pernah sebelumnya kulihat, kudengar dan kurasa tempat sedemikian indah di dunia.”
“Hai jiwa yang tenang, perjuanganmu diterima. Di sinilah tempatmu. Ibumu bangga dengan semangat patriotmu. Kiai dan teman santrimu telah ikhlas. Namamu tertancap di bumi dan terukir di langit. Maka, nikmatilah suguhan kami!”
“Mana Ibuku?”
“Ibumu sedang membaca surah Yasin atas kepulanganmu. Dia selamat. Dia tetap bahagia meski tanpamu. Dan, coba kau lihat di sana! Siapa lelaki bersurban yang sedang menunggangi kuda putih itu? Siapa lima sahabat yang tengah asik bermain di taman bersanding bidadari itu?”
“Subhanallah! Itu ayah. Dan, itu Shalihin, Sabir, Ridwan, Rahmat, juga Thaha. Tak salah lagi. Itu mereka.”
***

Kualitas cerpen yang sangat dahsyat, sudah sangat pantas untuk dipublikkan di harian Kompas, misalnya. Mantabbbb!
Masih jauh dari sempurna itu, Gus.
Maklum, saya masih belajar.
Afwan…