Santri Bambu Runcing

Dua hari kemudian, ayah kejang-kejang di kala Zuhdi memberi kabar kalau aku beserta rombongan teman santri belum pulang ke pesantren. Dan saat matahari tenggelam, di hari itu juga, seusai menelan kabar bahwa satu truk santri Sukorejo asuhan Kiai As’ad dikirim ke Surabaya sebagai pejuang Indonesia dan lima di antaranya telah gugur, bersamaan dengan akhir kalimat LailahaillaLlah yang dikumandangkan muazin salat Maghrib di masjid depan rumah, saat itulah ayah menghadap ke hadirat Allah.

Di Surabaya aku berteriak kemenangan. Manakala tiba di rumah aku luruh dalam tangis. Larut dalam sesal. Aku berdosa. Bahkan, aku merasa dirikulah yang membunuh ayah. Meski sudah takdir, aku tetap seolah tenggelam dalam lautan dosa. Seandainya aku mohon izin sebelum berangkat ke Surabaya, mungkin semuanya akan baik-baik saja. Tapi, inilah kehendak takdir. Suratan dari-Nya yang tak bisa dimungkiri. Dari sini kumunajat, semoga dosa ayah diampuni, amal baiknya diterima dan ditempatkan di surga-Nya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Demi mendasari hal tersebut, kini aku tak ingin kehilangan orang tersayang yang kedua kali. Hanya ibu harta terindahku. Dialah perempuan yang tiap hari tiada lelah mencari kayu bakar untuk dijual, lalu uangnya buat hidupku di pesantren. Ibu selalu tabah menjalani hidup. Beliau pula yang mengajariku tak goyah diterjang ombak. Beliau yang selalu mensirrikan tangisnya. Segera mengusap air mata di pipinya, dan langsung menebar senyum, sambil lirih mengatakan bahwa matanya agak lama menjaring aroma bawang merah, terkadang juga bilang terkena asap tungku yang kayunya masih basah. Demikian gelagat ibu saat tak sengaja kutemui berurai air mata di dapur.

Setibanya di rumah, setelah uluk salam dan mencium tangan ibu, aku memeluknya. Memohon maaf dari kedalaman hati.

“Cangkolang (maaf, tidak sopan). Abdina (saya) mohon izin. Minta doa dan restu ibu. Abdina hendak ke Panarukan. Belanda sudah sampai di sana. Khawatir keburu menyerang perumahan warga dan pesantren,” pamitku di samping rak piring bambu. Ibu lalu duduk di bibir lincak, mengeringkan tangannya pakai bekas baju seusai mencuci piring seng.

Ibu terpejam sesaat, mengatur napas.

“Sudah minta petunjuk kepada Allah?”

Aku terperanjat dengan pertanyaan ibu, kurang paham.

“Sudah istikharah?” ibu memperjelas.

Aku diam sebentar. Sambil memandang tanah yang menjadi alas dapur, lalu perlahan menggeleng. Sangkaanku sementara, ibu agak berat melepas kepergianku.

“Taruhannya adalah nyawa. Meski jika gugur menjadi syahid,” ucap ibu dengan pandangan kosong. “Tapi, apakah sopan jika kamu belum minta petunjuk Gusti Allah? Ibu takut kita dicap penentang rencana Allah. Karena Allah mungkin masih ingin melihat tangisan rakyat Indonesia. Masih senang mendengar rengekan kita. Masih ingin terus menguji. Sebab kondisi inilah yang mungkin menurut Allah terbaik bagi kita. Biar kita tambah dekat kepada-Nya. Agar setiap saat tak lupa menguntai doa yang dipanjatkan dengan deraian air mata. Kita menjadi tambah khusuk. Betul-betul menyatu dengan-Nya.”

Ibu menghela napas. Sesekali pergelangan tangannya terangkat, mengusap keringat di dahinya yang hitam bekas sujud. Sesekali pula terdengar bunyi tonggeret di dahan pohon jati belakang dapur. “Dengan dibayang-bayangi kematian, lantaran khawatir diserbu Belanda, keimanan kita makin meningkat. Sebab pada dasarnya tak ingin kita mati tanpa membawa iman,” lanjut ibu sambil menunduk. Matanya sembab.

Lalu ibu beranjak ke kamar mandi di belakang dapur. Rupanya beliau berwudhu. Lantas menuju kamar agak sempit yang sedari dulu dikhususkan untuk tempat salat. Ibu terbiasa salat sunat, malam maupun siang di rumah dan salat fardhu di masjid depan rumah. Demikianlah kata ibu yang utama, sebagaimana ajaran sang guru.

Tak lama kemudian, suara ibu memanggilku. Aku memenuhi.

“Ibu sebenarnya ingin engkau pegang pena, bukan bambu runcing. Ibu ingin kelak melihatmu menjadi ulama, bukan tentara. Namun, karena hasil istikharah, salat dan bacaan Al-Quran, bagus, silakan lanjutkan! Ibu merestuimu demi tegaknya Indonesia Merdeka,” gumam ibu dengan mukena putih di badan dan Al-Quran di tangan. Kecemasan sudah tak kujumpai lagi di wajahnya. Aku lega sudah mendapat restu.

“Baik bagi kita, belum tentu baik menurut Allah. Dengan memohon petunjuk kepada-Nya, insyaallah kita tak akan salah dalam bersikap,” imbuh ibu sembari melucuti mukena.

“Mohon tunggu sebentar!” aku menahan ibu. Lari ke dapur. Mengambil air di gentong dan sebuah mangkuk besar di rak piring bambu. “Aku hendak minta air basuhan kaki Ibu, biar keridaan Ibu melebur menjadi satu keutuhan dengan darah dagingku.”

Usai meminum air basuhan kaki ibu, kusisakan untuk membasahi muka dan kepala. Kemudian kumenyalami ibu. Kucium luar dan dalam telapak tangannya. “Aku pamit, Bu! Aku akan kembali dan hidup bersama Ibu,” ucapku di depan teras.

“Oh, tunggu sebentar! Ada yang tertinggal,” ingat ibu, lalu masuk lagi ke dalam rumah. “Barangkali dapat membantumu. Ini azimat dari Kiai Jakfar, guru alif almarhum ayahmu dulu. Taruh saja di lipatan peci atau saku bajumu.” Tangannya mengelus bahuku.

“Baik, Bu. Terima kasih. Assalamu’alaikum….”

2 Replies to “Santri Bambu Runcing”

Tinggalkan Balasan