Di tengah perubahan sosial yang sedang bergerak cepat, dunia pesantren didera pertanyaan penting tentang, sejauh mana santri bisa menjawab tantangan zaman.
Pertanyaan tersebut tidak menyinggung kualitas pesantren, namun menggiring kita untuk melihat perkembangan zaman. Cepatnya perkembangan teknologi, kompleksitas persoalan sosial, dan disrupsi ekonomi menuntut setiap orang dapat beradaptasi dengan baik. Termasuk orang-orang pesantren. Dengan inilah santri dan alumni pesantren selaras dengan semangat berdikari.

Sejauh ini pesantren sudah dikenal sebagai sebuah lembaga untuk mendidik karakter. Kejujuran, keikhlasan, ketulusan, tanggung jawab, dan kedisiplinan menjadi nilai-nilai yang tumbuh didalamnya. Pesantren menjadi contoh bagaimana etika dan kepekaan sosial tumbuh di lingkungan hidup bersama, bukan saja terbentuk dalam ruang belajar. Modal utama inilah sesungguhnya yang dimiliki santri dan alumni pesantren ketika memasuki dunia luar.
Pada zaman ini bukan saja karakter baik yang dapat bertahan, namun skill dan kapasitas harus memadai. Dunia saat ini tidak sedang bias pada kesalehan personal semata, tetapi juga membutuhkan individu yang produktif dan inovatif untuk mampu memecahkan berbagai persoalan di masyarakat. Berdikari bukan saja diartikan sebagai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, namun sebuah kemampuan untuk membangun daya saing tanpa kehilangan nilai moral.
Dalam tradisi Islam, berkerja bukan saja tentang persoalan perut, melainkan termasuk salah satu dari bagian ikhtiar yang mulia bagi manusia. Setiap orang perlu mengusahakan kehidupannya untuk lebih baik, mencari rezeki yang halal dari usaha sendiri.
