Guling bukan sekadar alat tidur. Ia adalah pelarian, tempat bersandar saat lelah menghafal, tempat menggigit emosi saat rindu rumah, bahkan kadang jadi ‘pengganti’ orang tua yang tak sempat menjenguk tiap bulan. Seorang santri pernah berkata, “Kalau capek banget, kadang aku peluk guling dan bayangin itu Ibu.” Kalimat sederhana itu menyimpan begitu banyak luka sekaligus ketangguhan.
Dalam ekonomi pesantren, guling bukan barang murah. Ia bukan prioritas ketika uang kiriman datang. Uang 100 ribu sebulan harus cukup untuk makan tambahan, odol, pulsa, dan sesekali beli gorengan. Guling masuk kategori barang mewah. Maka tak heran kalau ada santri yang baru bisa membeli guling setelah satu tahun menabung. Dan saat itu terjadi, momen membawa guling ke kamar adalah parade kecil yang tak disiarkan siapa-siapa, tapi sangat berkesan.

Satu kisah yang masih saya ingat. Seorang santri membawa guling baru berwarna biru langit ke kamar. Di ujungnya, tertulis huruf timbul, Shafira Collection. Ia mengelusnya pelan, meletakkannya dengan hati-hati di sudut kasurnya, dan tidak mengizinkan siapa pun bersandar padanya selama seminggu pertama. Guling itu dipelihara seperti harta warisan. Ketika kemudian guling itu dipinjam temannya selama semalam, ia gelisah. Tapi esoknya, ia biarkan juga. Rupanya, rasa memiliki pun belajar berlapang dada di pesantren.
Penting juga dicatat bahwa guling pribadi di pesantren bukan sekadar benda, tapi simbol. Dalam teori sosiologi minor, benda-benda remeh ini bisa dibaca sebagai artikulasi eksistensi. Karena tidak semua orang bisa punya kamar sendiri, lemari sendiri, bahkan kadang sajadah pun harus berbagi, maka guling menjadi ruang simbolik terakhir bagi santri untuk berkata “Ini milikku.” Tanpa harus berteriak.
Lucunya, ada juga ‘santri sultan’ yang justru tidak memiliki guling. Mereka lebih suka tidur dengan bantal tebal dan selimut hotel. Tapi mereka juga, karena punya banyak uang, sering jadi target “penggadaian guling”. Guling bisa jadi barang yang dipinjamkan sebagai bentuk solidaritas atau bentuk kekuasaan kecil. Santri yang sedang sakit, santri baru, atau santri yang hatinya sedang galau, kadang diberi hak istimewa untuk meminjam guling seseorang semalam. Ini bentuk afeksi yang tidak tertulis dalam kitab fikih, tapi sangat bermakna dalam laku kehidupan sehari-hari.
Ada juga guling yang tak punya pemilik tetap. Guling musafir ini berpindah-pindah, kadang hilang di kamar sebelah, kadang ditemukan di langgar, kadang malah jadi bantal sujud karena mushaf sudah tak muat di rak. Guling-guling seperti ini menunjukkan bahwa di pesantren, kadang kepemilikan hanyalah ilusi. Yang penting bukan siapa pemiliknya, tapi siapa yang membutuhkannya malam ini.
