Jika hanya dengan baca buku, lihat di Google, merupakan cara yang kurang atau bahkan tidak tepat dalam mempelajari agama. Agama diturunkan dan disebarkan secara bersanad. Sanad di sini, maksudnya ialah mempelajari agama secara runtun dengan guru. Dan guru tersebut juga mempelajari dengan guru gurunya, dan begitu seterusnya hingga sampai ke tabi’in, sahabat, dan berakhir di Rasulullah SAW.
Seperti perkataan Imam Ibnul Mubarak, “Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah jika bukan karena sanad, maka pasti siapa saja dapat berkata tentang apa yang diinginkannya (red. tentang agama).” Sanad menjadikan seseorang memiliki keterikatan pemahaman, sehingga tidak sembarangan dalam memahami dan menafsirkan teks-teks agama.

Santri dan Literasi Digital
Memang dalam era terdahulu, santri dicap sebagai kumpulan orang-orang yang mengkaji agama Islam secara mendalam, dengan metode tradisional, jauh dari hiruk-pikuk keramaian, serta kurang akrab dengan kemodernan. Hal seperti ini yang membuat masyarakat men-stigmanya dengan kata kolot, jauh dari peradaban, tidak punya skill, dll.
Tetapi, era sekarang telah berubah. Pondok pesantren tidak hanya mengadopsi kurikulum lawasnya, namun juga berkolaborasi dengan kurikulum pemerintah. Dalam artian, juga menyelenggarakan sekolah formal. Alhasil, yang dikembangkan tidak melulu ilmu agama, namun turut ilmu-ilmu pengetahuan umum.
Secara pelan perlahan, pandangan masyarakat pun terhadap pesantren semakin positif. Hal itu dibuktikan dengan semakin banyaknya jumlah pondok yang berdiri setiap tahunnya. Dalam survei yang dilakukan oleh Kementerian Agama, jumlah pondok pesantren pada tahun 2021 mencapai sebanyak 31.385, yang meliputi 4,29 juta jumlah santri.
