Santri dan Dakwah Digital

Pesantren telah menjadi tempat pendidikan yang paling nyaman. Jelas tentu, pendidikan agama yang dilakukannya pun memiliki sanad yang jelas. Bukan memiliki term pemahaman yang ekstrem, melainkan mewarisi pemahaman agama yang moderat yang tersambung sampai Rasulullah SAW. Titik tekan yang menggunakan kitab kuning sebagai bahan rujukan, menandakan bahwa apa yang telah ulama-ulama salaf maupun khalaf gali, tetap hidup dalam benak-benak santri. Pemaknaan agama yang mereka dapat sirkuler, saling terikat, dan tidak terputus.

Oleh karena itu, ketika santri membicarakan dan mendakwahkan agama adalah suatu hal yang pantas. Mereka telah secara lama mendalaminya. Sehingga, kesalahan-kesalahan pemahaman ketika memberi ceramah agama kepada masyarakat bisa dihindari. Bukan berarti untuk membatasi penyiaran agama hanya dalam kalangan tertentu, namun lebih tepatnya agar agama dipegang dan difatwakan oleh orang yang benar-benar bertanggung jawab dan memiliki kapabilitas keilmuan sehingga tidak disalahgunakan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Walau telat, namun saat ini para santri mulai mendominasi dalam konten-konten digital. Telat dikarenakan, pembuatan video, podcast, atau artikel-artikel keislaman oleh kaum santri mulai digeluti secara jamak pada dalam tahun-tahun akhir ini. Sedangkan sebelum tahun tersebut, golongan umat Islam yang menggunakan term pemahaman agama yang tekstual dan radikal (yang sering disebut Wahhabi) sudah mendahuluinya dan memiliki banyak followers.

Salah satu video ceramah kaum santri yang saat ini memiliki banyak viewers ialah ceramahnya Gus Baha. Bahkan karena saking dalam dan luasnya pemahaman beliau tentang agama, menjadikannya digandrungi oleh banyak orang, termasuk para pejabat dan kalangan artis. Ini adalah salah satu bukti bahwa kaum santri memang orang yang pantas dalam membicarakan agama.

Selain itu, dakwah santri juga mewarnai artikel-artikel berbasis digital. Dengan menjamurnya website keislaman yang tentunya dipegang oleh kaum santri, secara massif sangat mendukung terhadap adanya pemahaman Islam yang rahmat. Hal ini bisa dilihat dalam berbagai survei tentang website keislaman yang paling diminati oleh netizen, bahwa rangking-rangking atas di tempati oleh website-nya kaum santri.

Jika kaum santri bisa terus istikamah dalam meramaikan dunia maya, maka penulis yakin bahwa apa yang dilakukan tersebut dapat mengurangi perpecahan masyarakat. Sebabnya, pertikaian dan konflik yang sering mengguncang masyarakat seringkali berawal dari konflik agama. Pun demikian dengan radikalisme-terorisme. Dua hal ini massif tersebar di masyarakat melalui jejaring dunia maya. Oleh karena itu, dengan hadirnya santri dalam literasi digital, sangat membantu masyarakat untuk memahami agama secara benar sehingga tidak terjatuh dalam pemahaman yang salah yang akan berujung pada konflik dan kekerasan bermotif agama.

Tinggalkan Balasan