Santri dan Post Truth

Ketiga, priming atau penonjolan, yaitu wacana itu sebisa mungkin sampai ke audien melalui langkah-langkah secara simultan; memperbesar peluang untuk diakses (opportunity to acces/OTA), peluang untuk dibaca (opportunity to read/OTR), peluang untuk diingat (opportunity to memorize/OTM), dan peluang untuk dibagi (opportunity to share/OTS).

Santri di Era Post Truth

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sebagai penerus ulama, santri diharapkan sebagai tonggak untuk pembawa estafet kebenaran di masa yang akan datang. Disebabkan hal ini, dalam dunia pesantren, santri tidak cukup dibekali dengan keilmuan agama, melainkan juga life skill (kecakapan hidup) dan akhlak. Ini merupakan sebuah proses pendidikan kemanusiaan yang lebih sempurna, seperti halnya investasi SDM jangka panjang yang berasaskan akhlakul karimah dan berlabel keindonesiaan.

Dengan demikian, santri yang dikenal sebagai manusia yang memiliki kecerdasan organik yang luwes dalam menyikapi berbagai problem kebangsaan memiliki tugas sejarah memanggil kaum sarungan untuk terlibat dan melibatkan diri tampil di atas panggung publik, bukan malah sebaliknya, memilih mengasingkan diri dari ruang lingkup sosial.

Tinggalkan Balasan