Stereotip Islam sebagai agama yang dibangun di atas bilah pedang merupakan legitimasi logika yang kebablasan alias absurd. Persoalan ini sudah seringkali dibahas dan dijelaskan secara gamblang oleh kalangan ulama. Jika kemudian masih ada seseorang yang melakukan tindakan radikal, itu menjadi tanggung jawab pribadi dan tidak terkait dengan Islam. Muhammad membawa risalah Islam ini dengan membangun etika kedirian tanpa adanya celah untuk merumuskan permusuhan.
Jadi tidak ada istilah santri radikal. Yang ada adalah santri yang berakal. Menggunkan logika etik untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat baik bagi diri sendiri, orang lain, maupun lingkungannya. Santri dan radikalisme bagaikan dua aspek yang saling bertentangan. Tidak akan terjadi koneksi di antara keduanya, karena hal tersebut tidak logis dan merupakan suatu kemustahilan. Santri adalah santri, dengan akhlakul karimah, sementara radikal adalah golongan kiri yang tidak mungkin berkelindan dalam kesantrian.

Saling Menahan Diri
Jika kemudian masih terjadi tragedi terorisme, itu merupakan suatu tindakan yang ilegal. Tidak ada dalil syari ataupun alibi sosial yang dapat dijadikan dasar atau dalil. Maka kita harus saling menahan diri untuk tidak melakukan tindakan yang justru akan lebih memperparah suasana. Kita harus tetap menjaga persatuan dan kesatuan, karena NKRI merupakan harga mati.
Jika kemudian muncul kegaduhan yang semakin meluas, terjadi gesekan-gesekan yang disebabkan oleh langkah radikal oleh sebagian orang yang tak bertanggung jawab, maka hal tersebut merupakan suatu kekalahan. Jangan sampai terjadi permusuhan hanya karena ulah ektremis dan radikalis. Kita harus tetap membangun kebersamaan demi kemajuan bangsa yang damai. Teroris merupakan musuh kita bersama, dan jika kita bersama-sama menghadapi orang-orang radikal, dapat dipastikan kita akan mendapatkan kemenangan.
Kita tidak boleh terprovokasi. Apalagi jika kemudian muncul gagasan culas yang mengatasnamakan kelompok (misalnya, ulama). Hal itu merupakan bagian dari jaringan teroris yang mesti kita waspadai. Jangan sampai terjadi saling curiga antara satu orang dengan orang lainnya. Karena hakikat kekerasan tidak boleh berkembang di lingkungan negara demokrasi. Kita harus merapatkan langkah untuk bersama-sama mengahdapi terorisme agar kegiatan teror ini tersingkirkan dari kehidupan ini. Wallahu A’lam!
