Santri dan Radikalisme

Akhlak Santri

Sebagai seorang santri, menyikapi persoalan terorisme, radikalisme, dan ekstremisme merupakan bagian dari nilai akhlak. Santri yang dalam keseharian bergelut dengan nilai-nilai dasar Islam, tidak akan mendapatkan paparan tindak kekerasan terhadap orang lain. Bahkan, sekalipun orang lain tersebut adalah nonmuslim. Karena, hakikat hidup dan berkehidupan adalah saling menjaga dan saling menghargai tanpa batasan keyakinan. Santri diajarkan untuk menghargai siapa saja dalam interaksi sosial.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di dalam akhlak santri tidak ada perintah ataupun anjuran untuk bersikap radikal. Ekstrem kiri yang dipandang sebagai bentuk penyerangan, baik fisik maupun psikis, dan tidak ada dasar hukumnya. Islam adalah agama damai. Sama dengan agama-agama lainnya, tidak ada suatu agama yang mendorong terjadinya perseteruan di dalam kehidupan. Maka sangat tidak logis jika kemudian muncul anggapan bahwa Islam mendorong pergolakan dalam kehidupan sosial. Istilah jihad yang kemudian disalah-fungsikan sebagai pembenar untuk melakukan suatu kemunkaran. Hal ini yang harus kita waspadai.

Santri memiliki etika kasih sayang. Artinya, seorang santri yang sesungguhnya tidak akan melakukan tindakan radikal dan kekerasan. Karena sejak dari awal, santri telah diajarkan untuk melakukan hal-hal yang berdampak positif. Jika kemudian ada yang beranggapan bahwa melakukan bom bunuh diri merupakan suatu jihad, maka santri tersebut telah terpapar oleh virus radikalisme. Sikap radikal merupakan sebuah sistem, yang telah disengaja untuk menimbulkan kegaduhan. Dengan berbagai tujuan dan keinginan, baik yang bersifat pribadi maupun kelompok.

Santri Radikal? 

No way! Sangat tidak mungkin santri bersikap radikal, kecuali kalau terpapar oleh radikalisme dan ekstremisme setelah keluar dari pesantren. Visi dan misi sebuah pondok pesantren tidak bermuatan pengajaran tindak kekerasan. Secara umum, Al-Quran mengajarkan kedamaian. Dalam setiap aspek kehidupan dibangun suatu perbedaan sehingga perputaran kehidupan berjalan secara normal.

Dalam Al-Quran, Allah berfirman, “Dan jikalau Rabbmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (QS. Yunus: 99).

Tinggalkan Balasan