Santri dan Sumpah Pemuda: Refleksi Nasionalisme dalam Pendidikan Pesantren

Jong Islamieten Bond (JIB) didirikan pada 1 Januari 1925 di Batavia (sekarang: Jakarta). Tujuan utama organisasi ini adalah mendidik pemuda Islam agar memiliki kepribadian religius, intelektual, dan nasionalis. Organisasi ini juga memiliki peran yang fundamental dalam proses lahirnya Sumpah Pemuda.

Historika gerakan kebangsaan tidak dapat dipisahkan dengan eksistensi pesantren. Artinya peran pesantren memiliki hubungan yang erat dalam membangun karakter nasionalisme. Tidak sedikit pejuang kemerdekaan yang lahir dari pesantren. Hal ini semakin menjadi bukti bahwa pesantren bukan saja mengajarkan keagamaan, tetapi juga menekankan pentingnya cinta terhadap tanah air.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Nilai-Nilai Sumpah Pemuda dalam Pendidikan Pesantren

Nilai utama dalam Sumpah Pemuda meliputi persatuan dan kesatuan, identitas kebangsaan, dan komitmen terhadap bahasa Indonesia. Ketiga nilai tersebut memiliki keselarasan dengan prinsip pendidikan pesantren, khususnya dalam aspek pembentukan akhlak, kedisiplinan, dan solidaritas sosial.

Diijelaskan di dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat [49]: 10

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih)…” (QS. Al-Hujurat [49]: 10)

Ayat di atas menekankan pentingnya persaudaraan. Persatuan dan kesatuan di dalam Islam menjadi pilar utama. Karena tanpa adanya persaudaraan, persatuan, dan kesatuan kita akan lemah. Oleh karena itu, dalam keadaan lemah, mustahil kemerdekaan akan dicapai.

Dalam lingkungan pesantren, para santri berasal dari berbagai daerah dengan latar belakang budaya yang berbeda. Kondisi ini menciptakan ruang pembelajaran sosial tentang toleransi, solidaritas, dan kebersamaan dalam keragaman sebuah representasi konkret dari semangat Sumpah Pemuda. Selain itu, prinsip hubbul wathan minal iman (cinta tanah air sebagian dari iman) menjadi dasar ideologis yang memperkuat nilai nasionalisme religius di kalangan santri.

Tinggalkan Balasan