Dalam konteks keindonesiaan, prinsip ukhuwah islamiyah (persaudaraan sesama Muslim), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa), dan ukhuwah insaniyah (persaudaraan sesama manusia) saling melengkapi. Ketiganya menegaskan bahwa menjaga persatuan bangsa adalah bagian dari pengamalan iman dan moral Islam.
Santri Era Modern: Reaktualisasi Nilai Kebangsaan

Peran santri dalam konteks kekinian tidak lagi terbatas pada bidang keagamaan, tetapi juga mencakup ranah sosial, ekonomi, dan teknologi. Pendidikan pesantren dituntut untuk melakukan transformasi kurikulum agar mampu menyiapkan santri menghadapi tantangan global tanpa kehilangan identitas keislaman dan keindonesiaannya.
Momentum Hari Santri (22 Oktober) yang berdekatan dengan Hari Sumpah Pemuda (28 Oktober) memiliki makna simbolis yang kuat. Keduanya menegaskan hubungan erat antara semangat religiusitas dan nasionalisme. Koneksi kuat antara pesantren dan negara. Santri modern diharapkan dapat menjadi representasi generasi muda yang berpikir kritis, berakhlak, dan memiliki komitmen terhadap kemajuan bangsa.
Nilai-nilai kebangsaan harus tetap tertanam kuat di sanubari para santri. Karena sejak awal, bahkan sebelum kemerdekaan, pesantren telah berdaya upaya untuk menciptakan lingkungan pesantren yang religius sekaligus nasionalis. Lebih dari itu, pesantren juga menanamkan pentingnya kesadaran dalam berbangsa dan bernegara. Menjaga persatuan dan kesatuan merupakan kewajiban segenap bangsa. Tidak terkecuali, santri adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam menciptakan lingkungan yang cinta tanah air (hubbul wathan).
Santri dan Sumpah Pemuda merupakan dua entitas historis yang saling berkaitan dalam membangun fondasi kebangsaan Indonesia. Nilai-nilai persatuan, cinta tanah air, dan tanggung jawab sosial yang terkandung dalam Sumpah Pemuda telah lama diinternalisasi dalam sistem pendidikan pesantren. Oleh karena itu, dalam konteks pendidikan nasional, pesantren memiliki potensi besar sebagai lembaga yang menanamkan karakter kebangsaan yang religius dan inklusif.
Upaya penguatan nasionalisme melalui pendidikan santri tidak hanya relevan secara historis, tetapi juga strategis dalam menghadapi tantangan globalisasi dan krisis identitas generasi muda masa kini. Menjadi tanggung jawab bersama, bahwa kemerdekaan harus kita isi dengan karakter falsafah Sumpah Pemuda. Wallahu A’lam!
