Santri dan Tren Purifikasi Agama

Tak hanya kuantitas waktu belajarnya, kualitas kitab yang dipelajari pun tak dapat diragukan lagi. Kitab-kitab selevel Ihya Ulum Ad-Din, Tafsir Al-Qurthuby,  Alfiyah Ibn Malik, dan lain lain sudah jadi makanan mereka sehari-hari.

Maka, bicara soal purifikasi agama, tentu merekalah, para santri, yang lebih “berhak” bicara. Karena, itu adalah dunia yang sudah mereka selami Min Al-Mahdi Ila Al-Lahdi. Kebebasan berpendapat bukanlah alasan yang bisa menjatuhkan wibawa kredibilitas santri di antara kaum non-santri yang merasa “sok” puritan. Jika mereka, kaum “sok” puritan ini, mencela pemahaman seorang santri terhadap al-Quran, maka sudah seberapa jauh pengetahuan orang ini soal ilmu tafsir? Jika mereka mengkritik pemahaman santri terhadap sebuah fenomena syariat, maka sudah seberapa jauh pemahaman orang ini terhadap ilmu fiqh dan ushul fiqh dibanding para santri?

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ini adalah panggilan untuk santri di mana pun berada. Santri harus bangkit mengawal zamannya. Santri harus ada di barisan terdepan dalam membimbing masyarakat ke jalan yang diridai Allah. Santri harus jadi top of mind masyarakat atas segala problematika spiritual, dibandingkan dengan mereka yang bukan santri. Di pundak santri ada berton-ton tanggung jawab terhadap agamanya. Karena santrilah penyambung lidah antara masyarakat dengan para ulama bahkan Allah SWT.

Wallahu A’lam.

Tinggalkan Balasan