Di permulaan saat ini, nampaknya ada beberapa hal yang menarik untuk diperbincangkan juga kemudian perlu dipersiapkan. Selanjutnya, apa yang harus dilakukan santri dalam mempersiapkan diri agar bisa menjadi pelaku sejarah serta pelopor kemajuan peradaban di Indonesia di era milenial ini?
Setidaknya ada tiga hal yang harus dilakukan santri dalam mempersiapkan diri agar bisa menjadi pelaku sejarah serta pelopor kemajuan peradaban di Indonesia berdasarkan realitas yang ada. Pertama, santri harus memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi dan daya nalar kritis dalam menyikapi setiap persoalan yang ada.

Dalam konteks ini, keilmuan santri harus mampu menyesuaikan dengan keadaan zaman, sehingga tidak lagi dibatasi dengan dikotomi antara keilmuan dunia dan keilmuan akhirat. Santri harus bisa menguasai berbagai bidang keilmuan yang mampu mengantarkan kemenangan di dunia dan akhirat.
Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin mengutip sebuah hadits yang mengatakan bahwa: “Sesungguhnya kalian berada di zaman fuqaha (ahli ilmu), ahli baca al-Quran, dan ahli pidato. Maka amal pada zaman ini lebih baik dari pada ilmu. Dan akan datang kepada manusia zaman di mana sedikit fuqaha, banyak qurra, dan khutoba. Maka, ilmu pada zaman ini lebih baik dari pada amal.”
