Santri Nakal

Juga darurat. HP adalah bagian dari kehidupan masyarakat modern. Mengoperasikan HP berarti menjaga akal agar tetap update perkembangan. Selain itu, HP adalah perantara mutlak untuk menghubungi orang tua—minta kiriman, tentu saja.

Begitulah. Notifikasi WA memang tidak menggoda santri di depan umum, tetapi di balik bilik kamar mandi atau kolong lemari, notifikasi itu menjadi jendela rahasia menuju semesta baru.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Inilah paradoksnya: para santri ini adalah mereka yang seharusnya paling terisolasi, namun justru paling gigih mencari cara untuk tetap terhubung.

Santri nakal mungkin bukan mutafannin (ahli dalam banyak disiplin ilmu) dalam urusan keilmuan, tetapi mereka adalah mutafannin dalam seni bertahan hidup dan negosiasi batas. Mereka tahu cara membaca situasi, menakar risiko, dan menyesuaikan diri tanpa kehilangan arah. Dari balik tirai pesantren yang tampak tertutup rapat, mereka belajar sesuatu yang tak tertulis di kitab mana pun: bagaimana berstrategi, beradaptasi, dan tetap waras di tengah aturan yang ketat.

Maka jangan buru-buru menilai mereka sekadar nakal. Bisa jadi, justru mereka yang paling siap menghadapi dunia luar—karena sejak lama mereka telah belajar satu hal yang sulit diajarkan di kelas: hidup itu tidak selalu soal patuh, tapi tentang tahu kapan harus taat, dan kapan harus bersiasat.

Tinggalkan Balasan