Dari pendapat inilah, Abdu mengerti bahwa seorang intelektual sejati harus berani menciptakan perlawanan terhadap apa saja, termasuk lingkungan. Entah yang bermanfaat (baik) atau sebaliknya. Andaipun bermanfaat, setidaknya mampu menciptakan hal-hal yang lebih bermanfaat lagi, lagi, dan lagi. Sebab itu pula, dalam jiwa Abdu muncul lagi semangat baru untuk meneruskan niat pertamanya; yakni dikenal dunia.
Sampai di tengah perjalanan, Abdu merasa bingung untuk memulai dari mana niat baiknya itu terwujud. Dia dibuat pusing tujuh keliling terhadap apa yang akan dia tulis. Hingga tiba saatnya, di mana Abdu membaca sebuah buku, di dalamnya menjelaskan tentang syarat utama sebelum menulis, yakni membaca. Karena itu, Abdu semakin bersemangat dalam membaca.

Hari demi hari Abdu lewati dengan membaca. Membaca, membaca, dan membaca. Hingga sampailah, di mana Abdu membaca koran Jawa Pos edisi hari Minggu, di mana terdapat rubrik “Halte” pada saat itu. Kebetulan termuat tulisan Eka Kurniawan, yang berjudul Maaf, Mau Ke Belakang. Di situlah Abdu gembira tiada tara, ketika mendapat bocoran tentang di mana suatu ide tulisan akan muncul/terbesit.
Di samping sekian lamanya Abdu membaca, tetapi belum bisa menciptakan satu pun karya tulis. Akhirnya, Abdu mencoba hal yang disampaikan Eka Kurniawan dalam esainya itu, yakni ke toilet. Setiap kali dia ke toilet, Abdu mengusahakan membawa seperangkat alat tulis (buku dan bulpen). Bahkan lebih konyolnya lagi, meskipun tidak ada hajat, tetap dia paksakan ke toilet.
Teman kamarnya yang sering berpapasan dengan Abdu di toilet, mulai curiga melihat tingkah lakunya yang konyol. Hingga sampai saatnya, kebiasaan konyol Abdu terbongkar, yang diam-diam menulis di dalam toilet. Akibatnya, Abdu sering di-bully teman sekamarnya. Namun apalah daya, Abdu tidak bisa membela diri, berhubung dari sekian tulisan yang berhasil dia buat di toilet, tidak satu pun yang termuat di media. Tetapi Abdu pantang menyerah, setiap kali mendapat perlakuan tidak enak dari teman kamarnya, Abdu memilih bersabar, seraya berkata, “Akan aku ciptakan Jogja-jogja kecil di sini.” Mendengar jawaban Abdu, teman sekamarnya tambah ketawa.
Suatu hari tanpa disangka-sangka, email Abdu mendapatkan balasan dari salah satu media online. Itu pertanda, salah satu tulisan yang Abdu kirim sebelum-sebelumnya dinyatakan lolos seleksi dan siap diterbitkan di hari yang telah ditentukan oleh pihak redaksi.
