Tetapi Abdu tidak percaya ini, Abdu belum bisa menerima secara yakin bahwa salah satu tulisannya akan dimuat oleh salah satu media online. Baginya, ini adalah mimpi, hal di luar dugaannya. Tepat di sampingnya langsung, saya sendiri melihat secara jelas bagaimana ekspresi wajah Abdu melihat notifikasi yang diterimanya. Sebagai temannya, saya ikut senang.
Akhirnya melihat keberhasilan Abdu, teman sekamar pun bangga, terharu, sekaligus bercampur malu. Bagaimana tidak, teman-teman ingat sekali ketika kompak merundung Abdu ketika hendak pergi ke toilet; lalu bagaimana respons Abdu ketika dirisak, dia membalasnya dengan senyuman yang dipaksakan. Tetapi ketika Abdu berhasil, apresiasi berupa pujian pun tiada henti mengalir untuk Abdu.

Dengan kesetiannya bersama buku, dengan kesabarannya menerima cacian, dengan kegigihannya untuk tetap menulis, Abdu yang dulu berbeda dengan Abdu yang sekarang. Di mana, hari demi hari dihabiskan dengan menulis, waktu demi waktu pun dihabiskan untuk membaca. Akhirnya, tulisan demi tulisan yang telah ditulisnya, banyak diterima di berbagai media ternama.
Walhasil, ini menjadi pelajaran untuk kita semua, bahwa proses tidak akan mengkhianati hasil. Selagi kita berusaha, di situlah ada kemudahan. Naasnya, ketika kebiasaan Abdu di toilet saya terapkan, yang ada bukan menghasilkan tulisan, tetapi malah mangundang kemarahan santri yang lain karena harus terlalu lama ngantre di toilet, he-he-he. Wallahu A’lam.
Catatan: berdasarkan kisah nyata.
