Realita Sastra Pesantren
Sastra pesantren dalam beragam bentuknya —hikayat, serat, kisah, cerita, puisi, roman, novel, syiir, nadhoman— adalah buah karya orang-orang pesantren dalam mengolah cerita, menulis-ulang hikayat, hingga membuat karya-karya baru, baik lisan maupun tulisan. Sastra pesantren merupakan realita literasi yang dilakukan oleh para santri (dalam arti khusus) bahwa di pondok pedantren kegiatan sastra juga tidak terbatas. Maksud dari tidak terbatas adalah bahwa pada saat ini perkembangan sastra pesantren sangat komprehensif, menyentuh berbagai bentuk sastra yang berkembang pada saat ini.

Menurut KH Musthafa Bisri, yang biasa dipanggil Gus Mus, sastra merupakan makanan sehari-hari para santri. Hal ini disampaikan oleh Gus Mus pada saat pidato kebudayaan Muktamar Sastra 2018 di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo pada 2018.
Tidak sedikit sastrawan yang lahir dari kalangan santri. Termasuk, KH Musthafa Bisri juga sebagai sastrawan yang mempunyai lembaga pesantren. Menurut Gus Mus, KH Abdul Hamid Pasuruan dan Kiai As’ad Syamsul Arifin adalah sastrawan yang lahir dari kalangan santri. Tetapi, keduanya (Kiai Hamid dan Kiai As’ad) lebih menonjol kewaliannya daripada kesastraannya.
Sastrawan pesantren lainnya adalah Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari. Menurut Gus Mus, Kiai Hasyim Asy’ari selalu membuat syair ketika terjadi beda pandangan atau khilafiyah di dalam suatu persoalan. Hal ini dimaksudkan agar para santri tidak mengambil pemahaman secara langsung. Hanya santri-santri tertentu (memahami perbedaan pendapat) yang mengetahui perbedaan tersebut.
Sastra di pesantren bukan sesuatu yang asing. Bahkan sastra dapat ditemukan di segala aktivitas santri, seperti pada saat dzikir sebelum salat jamaah, di kelas-kelas normatif semisal ilmu nahwu dan fiqih yang dimuat berupa karya nadhom, dan lain sebagainya. Jadi, realita sastra pesantren sudah lahir sejak pesantren itu didirikan.
Sastra dan Terapi Mental
Secara umum, membaca memberikan efek positif terhadap kesehatan mental. Dalam sebuah penelitian di sebuah distrik di Inggris membuat suatu skema bahwa dokter spesialis dan psikiater memberikan rekomendasi buku bacaan tertentu (sastra) untuk dibaca oleh para pasien. Dengan cara tersebut, terdapat kesimpulan bahwa membaca buku tertentu memberikan efek positif terhadap kesehatan seseorang.
Aristoteles pun menganggap sastra memiliki manfaat penyembuhan dan membaca fiksi adalah cara mengobati penyakit. Jadi, membaca sastra tertentu akan berdampak signifikan terhadap kesehatan fisik dan mental. Bahkan konsep ini telah diketemukan sejak 300 SM. Pada masa itu prasasti yang berisi bacaan-bacaan tertentu memberikan efek terapi sehat bagi seseorang yang mempunyai masalah kesehatan. Hakikatnya, terapi membaca buku sastra untuk kesehatan telah diketahui jauh sebelum permasalahan ini menjadi diskusi kita bersama.
Tentu saja kita harus selektif dalam memilih buku bacaan. Tidak semua buku bacaan (bahkan sastra sekalipun) dapat dijadikan terapi dalam persoalan kesehatan. Karena tidak sedikit buku-buku bacaan yang memuat konten negatif. Maka, buku-buku semacam ini sangat tidak direkomendasikan untuk dijadikan bahan bacaan untuk terapi mental.
