Jauh lebih dari sekadar membaca, membuat karya sastra juga memberikan efek baik terhadap kesehatan. Karena realitasnya, seorang penulis juga harus seorang pembaca. Menulis secara otomatis juga membaca, setidaknya karya yang mereka tulis. Tetapi dapat dipastikan, seorang penulis juga seorang pembaca yang baik.
Berikut bukti-bukti empiris yang menyatakan bahwa sastra memberikan efek positif bagi penikmatnya. Seperti Asrul Sani, seorang sastrawan, sutradara, dan penulis skenario film, lahir di Sumatra Barat, 10 Juni 1927 dan meninggal di Jakarta, 11 Januari 2004 pada umur 76 tahun. Sapardi Djoko Damono, seorang profesor dan pujangga berkebangsaan Indonesia, lahir di Surakarta, 20 Maret 1940 dan meninggal di Kota Tangerang Selatan, 19 Juli 2020 pada usia 80 tahun.

Pramoedya Ananta Toer, secara luas dianggap sebagai salah satu pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia. Pramoedya telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing. Lahir di Kabupaten Blora, 06 Februari 1925 dan meninggal di Jakarta, 30 April 2006 pada usia 81.
Hans Bague Jassin, atau lebih sering disingkat menjadi HB Jassin adalah seorang pengarang, penyunting, dan kritikus sastra berkebangsaan Indonesia. Lahir 31 Juli 1917, di Gorontalo dan meninggal 11 Maret 2000, di Jakarta pada usia 82 tahun.
Setelah memperhatikan kehidupan para sastrawan Indonesia, yang produktif hingga akhir hayat dalam usia yang cukup lanjut, menjadi bukti empiris bahwa sastra merupakan sarana efektif untuk kesehatan fisik dan mental. Oleh karena itu dapat dijadikan alternatif bagi seseorang yang mempunyai permasalahan kesehatan untuk menikmati bacaan buku sastra demi memberikan efek positif dalam kehidupan.
Membumikan Satra, Melangitkan Karya
Saatnya kita membumikan sastra agar karya ini mendapat tempat yang layak di dalam kehidupan. Karena stereotip saat ini, sastrawan masih dipandang sebagai profesi yang kurang memberikan harapan. Sastrawan (menulis sastra) hanya dijadikan kerja sampingan bukan sebagai kerja profesional.
Meskipun sudah banyak sastrawan yang telah berpenghasilan layak, namun sampai detik ini job ini belum menjadi pilihan banyak orang. Atau dengan kata lain, tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa menulis, termasuk menulis sastra, hanya untuk orang-orang tertentu saja.
Menjadi kewajiban kita bersama untuk membumikan sastra dan melangitkan karya. Karya tulis secara umum, tidak serta merta menjadi layak dibaca dalam waktu singkat. Harus melewati proses yang tidak sederhana, dan memerlukan waktu yang tidak sedikit. Diperlukan upaya dan komitmen yang kuat dari diri kita masing-masing.
Ke depan kita dihadapkan dengan kemajuan teknologi yang cukup pesat. Teknologi ini kita dapat jadikan sarana untuk membumikan sastra dan melangitkan karya. Karya sastra yang positif akan memberikan hikmah yang luar biasa, baik untuk diri sendiri maupun bagi orang banyak. Aamiin!
