Hari demi hari pun dilewatinya dengan percuma. Tanpa sepengetahuan pengurus lembaga, Rahim pun sering berbicara menggunakan bahasa lokal. Ketika diajak berbicara menggunakan Bahasa Arab oleh pengurus, jawaban Rahim antara iya (na’am) dan tidak (la). Andaipun ada jawaban yang lain, hanya jawaban terima kasih (syukron). Ketiga jawaban inilah yang dipakai Rahim dalam kesehariannya.
Selain itu, Rahim pintar menyembunyikan pelanggarannya. Hampir setiap minggu, Rahim selalu lolos dari hukuman (takziran) bagi anggota yang tidak berbicara Bahasa Arab. Tetapi apa boleh buat, sepandai-pandai tupai meloncat pasti jatuh juga. Begitulah kata pepatah. Sama halnya bagi Rahim, sepandai-pandai Rahim menyembunyikan pelanggarannya, pada akhirnya akan terbongkar juga.

Di mana suatu sore, ketika matahari akan mengakhiri petualangannya, terdapat seorang pengendara motor melintas di depan lembaganya. Kebetulan, saat itu Rahim sedang menyapu halaman kamarnya. Melihat dari jauh pengendara motor tersebut melajukan motornya dengan sangat terburu-buru tanpa memperhatikan keselamatan pejalan kaki, Rahim ingin sekali menegurnya dan kalau perlu memarahinya.
Sebelum si pengendara motor tepat di depan matanya, dengan segala kemampuan Rahim merangkai kata demi kata (mufrodat) dengan menggunakan Bahasa Arab, Rahim pun telah siap menegurnya. Akhirnya, ketika si pengendara motor tepat di depannya, Rahim dengan suara lantang dan rasa percaya dirinya berkata, “Qalbun Qalbun Ya Dzahab!”.
