Santri Sok Arab

Melihat si pengendara motor mengabaikannya, Rahim terbawa emosi dan kembali meneriakinya lebih keras lagi dengan kalimat yang sama, namun dibumbui kata yang tidak seharusnya. “Qalbun Qalbun Ya Dzahab, Kalbun!”.

Sontak, mendengar teriakan keras yang kedua, seluruh anggota maupun pengurus lembaga menaruh pandangannya kepada Rahim. Namun, Rahim tetap saja belum merasakan kesalahan dari apa yang telah dilontarkannya. Meskipun sebenarnya, alasan yang melatarbelakanginya hanyalah sebatas teguran kepada pengendara motor. Tetapi dengan rasa percaya dirinya, sebenarnya Rahim ingin berkata, “Pelan-pelan/hati-hati Mas!”. Di samping menjadi sebuah kewajiban baginya, mau tidak mau, sebisa mungkin tetap harus berbicara Bahasa Arab.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Apalah daya, tindakan Rahim tetap saja dianggap sebuah pelanggaran oleh pengurus lembaga. Pertama, karena salah berbahasa Arab. Kedua, Rahim sempat mengeluarkan kata yang tidak pantas, meskipun sedikit santri yang tahu makna “kalbun”. Oleh sebab itu, sepandai-pandai tupai meloncat, pasti akan jatuh juga. Dan Rahim, layak mendapat hukuman (takziran) berupa menghafalkan kata (mufrodat) di kamus Al-Munawwir sebanyak 50, he-he-he.

Qalbun Qalbun Ya Dhahab, Wallahu A’lam!

Tinggalkan Balasan