Santri yang Tak Kenal Kiai

Coba seumpama ditanya, mana yang lebih Anda kenal, Felix Siauw atau KH Ishomuddin? Mana yang lebih Anda kenal, Hanan Attaki atau Gus Afifudin Dimyati? Mana yang lebih Anda sering dengar ceramahnya, Ustadz Abdul Shomad atau KH Ma’ruf Khozin? Atau, yang terakhir, pilih mana, KH Abdulloh Gymnastiar alias Aa Gym atau KH Bahauddin Nursalim?

Pertanyaan-pertanyaan itu, apabila dijadikan kuesioner dengan objek masyarakat umum, kira-kira mana yang lebih banyak jawabannya? Yah, Anda mungkin sudah bisa menebak.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Faktanya, masyarakat awam, khususnya generasi milenial, lebih mengenal Felix Siauw daripada Gus Ishom, meski keilmuannya jauh di bawahnya; lebih paham dengan suara khas Hanan Attaki ketimbang Gus Awis Jombang (bahkan disebut daerah pun belum tentu ada yang tahu); dan, yang terakhir, sudah pasti mengidolakan Aa Gym dan Ustadz Shomad dari pada KH Maruf Khozin. Kalau untuk Gus Baha masih mendinglah; cukup masyhur namanya.

Kenapa kok demikian? Kiai-kiai kita yang lebih ‘alim, ahli kitab, lulusan pesantren, bisa kalah tenar dibanding ustadz-ustadz sebelah? Kira-kira begini penjelasannya.

Masyarakat awam yang belum sempat merasakan nikmatnya mengaji di pondok pesantren pada akhirnya tiba masanya mereka haus akan ilmu agama. Dan, untuk bisa memenuhi rasa hausnya itu, maka manalagi tempat majelis paling mudah didatangi selain Youtube dan Google. Atau, mereka menjadikan Facebook dan Instagram sebagai wasilah dalam mengaji dan memahami ilmu agama.

“Ngustadz” Sosmed

Nah, di sinilah anehnya. Kok, ya, algoritma Youtube dkk “rohimahulloh” itu lebih sering memunculkan nama-nama “ustadz sebelah”.

Coba saja searching tentang hokum. Misalnya, bagaimana hukumnya mandi kalau bla-bla-bla; bagaimana hukumnya sholat dengan bla-bla-bla; bagaimana hukumnya merayakan hari… bla-bla-bla. Pasti yang muncul adalah pendapat mereka itu tadi: Ustads Abdul Shomad, atau Adi Hidayat, Hanan, Basalamah, bahkan sampai Yazid Jawas.

Pernah saya ngobrol dengan tukang potokopi sewaktu ngampus. Petugasnya seorang laki-laki seumuran saya, tapi maaf masih ganteng saya.

“Sampean dari pondok ya mas,” tanya si mas tukang potokopi.

“Oh, iya,” jawab saya ketus.

Tinggalkan Balasan