Sanad Ilmu
Satu cerita lagi. Di rumah pernah ada geger gara-gara masalah bacaan ba’da tahiyat. Saat ada kiai kampung mengisi ceramah di pengajian emak-emak, beliau menyampaikan tentang kesunnahan bacaan ba’da tahiyat sebelum salam.

Usai pengajian, lha kok ya aneh-aneh, para ibu itu yang entah dari mana sumbernya, berkasak-kusuk yang intinya tidak setuju dengan apa yang disampaikan sang kiai. Berikut ppercakapan mereka.
“Memang ada to bacaan itu. Setahuku habis tahiyat ya sudah, tinggal salam. Tak pakai bacaan-bacaan.”
“Iya, Bu, benar. Setahuku juga tak ada tuh. Malah bid’ah itu kalau ditambah-tambahkan.”
Pada akhirnya, itu menjadi bukti bahwa masyarakat kurang bisa menghormati kiai kampung yang ada di daerahnya. Entah apa karena kenal kehidupan sehari-hari mereka sehingga kurang diajeni, sementara yang biasa dilihat di layar, di dunia maya, karena jarang bertemu dan tampak lebih powerful, perfecto, jadi lebih dipuja, diidolakan.
Yang payah, kalau kemudian setelah melihat ustadz-ustadz di Youtube, mereka berpandangan, “Kok, kayaknya enak ya bisa ceramah?”
Lebih parah lagi, kalau kemudian mereka yang tentu bukan pakemnya untuk berbicara tentang agama, mendadak “ngustadz”, merasa bisa dan layak untuk berceramah, dan orang lain dianggapnya jahil dan sesat sehingga perlu ia luruskan. Ribet, kan, jadinya. Orang lain bukannya semakin cinta, justru semakin menjauh dari agama. Sebab, sifat kaku dan kasar si pemeluknya itu.
Belajar agama memang tak bisa disamakan dengan belajar ilmu umum. Kita mungkin boleh membaca buku tentang ilmu kedokteran selama sehari semalam sampai paham, belajar ilmu robotika selama satu waktu, memahami ilmu astronomi lalu menelaah sendiri, mungkin saja kita akan benar-benar paham dan menguasai ilmu itu.
Tapi, untuk membaca satu kitab agama, bahkan untuk satu ayat saja dari firman Tuhan, satu hadist saja, tidak bisa serampangan. Perlu bimbingan secara ta’aqquli. Harus melalui perantara seorang guru secara langsung, yang tidak hanya menyampaikan dengan lisan, tapi batinnya pun harus sambung dengan sang guru. Sehingga, benar-benar bisa memahami makna dan maksud sebuah ayat. Itulah satu keistimewaan ilmu agama yang tidak dimiliki cabang ilmu mana pun: sanad keilmuan.
Seperti yang dikatakan Abdulloh Ibn Mubarak ra. “Al isnaadu minaddiin, falaulal isnaad, laqoola man sya’a maa syaa’a.” Artinya, Sanad keilmuan itu bagian dari pada agama. Kalau tidak ada sanad dari guru ke guru, maka siapa pun akan berbicara apa pun.
