Lalu dia cerita panjang lebar, dan pura-pura saja saya dengarkan. Cuma saya jawab iya-iya, biar cepat urusan fotokopi.
Tapi kemudian, kok, tiba-tiba dia ngomong, “Itu, lo, mas, saya kok suka dengar ceramahnya ustads muda itu, lo, yang ngomongnya enak banget didengar.”

Saya yang semula bodo amat, ya jadi penasaran. Siapa sih yang dimaksud? Lalu dia kasih ciri-ciri ustadz yang dimaksud. “Yang dari Bandung kayaknya itu,” katanya sambil utak-utik mesin yang sepertinya macet.
“Oh yang pakai topi lentur kayak karet nutup jidat itu, to?” jawab saya.
“Oh, ya, mas,” katanya sambil tersenyum. Entah kenapa dia kok tak peka disindir.
“Yang sukanya nyebut-nyebut hijrah-hijrah itu bukan? (hijrah ke Israel ?),” yang dalam kurung cuma saya batin.
“Oh iya, benar mas. Sampean juga sering dengar to? Bagus ya ceramahnya?”
“Hmm…, Hanan Attaki, bukan,” kata saya.
“Uh iya, benar, mas.”
Damn it, saya juga disangka suka ceramahnya. Tuduhan yang baik, tapi rasanya seperti disuudzoni.
Terus saya memmbatin, wong sampean itu lo punya kiai kampung, kenapa kok malah nonton ustadz Youtube. Saya paham karena di daerah sekitar kampus saya basisnya NU, dan desa tempat si masnya tinggal itu juga banyak kiai dan gus gus yang ‘alim, ahli agama; tapi kok malah idolanya Kanan Attaki. Hadehh….

