Maka tidak berlebihan jika kemudian Umar ibn Khattab memberikan penegasan bahwa pengajaran sastra akan memberikan karakter kebenaran yang dapat diungkapkan dalam kehidupan. Membangun jiwa kebenaran melalui sastra bukan isapan jempol. Tetapi suatu kenyataan bahwa di dalam sastra terdapat anasir kebenaran yang dapat dijadikan pedoman. Maka tidak dapat melarung suatu kebenaran ketika sastra tidak dijadikan karakter keseharian.
Terkait kebenaran, dalam Al-Quran Allah berfirman, “Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari rabbmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran,” (QS. AR-Ra’d:19).

Terkait dengan ayat ini, Imam ibn Katsir menjelaskan bahwa tidaklah sama antara orang yang meyakini kebenaran yang datang dari Muhammad dengan orang buta yang tidak mengetahui dan memahami kebaikan. Dan Al-Quran itu sendiri merupakan “naskah sastra” yang di dalamnya mengandung kebenaran dan kebaikan.
Sastra dan Keberanian
“Ajarkanlah anakmu sastra, karena sastra mengubah pengecut menjadi pemberani,” (Umar bin Khattab). Sastra merupakan salah satu sarana untuk menjadikan seorang pengecut menjadi pemberani. Seseorang yang memahami dan mendalami sastra yang di dalamnya terkandung nuansa keindahan, kejujuran, kebenaran, kebaikan, keadilan, dan lain sebagainya, maka unsur-unsur nilai luhur ini akan membentuk jiwa-jiwa pemberani. Aspek nilai luhur di dalam sastra menjadikan seseorang pemberani karena benar. Membentuk karakter berani dengan kejujuran dalam ranah kehidupan.
Berani karena benar merupakan karakter yang diajarkan dalam sastra. Bukan sebuah kebetulan jika kemudian Umar ibn Khattab menganjurkan untuk mengajarkan anak didik kita dengan nilai-nilai sastra yang di dalamnya memuat kebenaran. Di dalam sastra itu sendiri mengajarkan kita akan hakikat keberanian, bahwa berani itu harus dilandasi kebenaran dan nilai kebaikan.
Pergolakan batin terkait dengan sastra menumbuh-kembangkan kesadaran bahwa di dalam naskah sastra terdapat pitutur amaliah kehidupan. Serpihan keluhuran sastra memiliki bias-bias keadilan, kebenaran, dan keberanian. Naskah sastra yang mahasastra adalah Al-Quran, kemudian hadis, kemudian kitab-kitab klasik, berikutnya buku-buku sastrawan yang banyak berkeliaran di antara kehidupan kita. Semoga tulisan ini memberikan nilai manfaat bagi pembaca untuk lebih memahami dan mendalami nilai luhur sastra. Wallahu A’lam!
