Sastra Masuk Sekolah, Terobosan atau Beban?

Guru Penggerak

Jika sastra masuk sekolah, yang pertama dipikirkan adalah jaminan hidup seorang guru. Belum lagi kekurangan guru banyak terjadi di daerah perdesaan, wilayah terpencil, dan perbatasan, di mana jumlah guru hanya berkisar tiga sampai empat. Di sisi lain, guru terkonsentrasi di perkotaan yang sarana dan prasarananya lebih baik.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Faktanya, sekolah dasar memiliki 11 hingga 14 guru, termasuk kepala sekolah. Oleh karena itu, meskipun sekolah-sekolah maju di daerah perkotaan mampu bertahan dengan kemajuan yang dicapai sejauh ini, sekolah-sekolah di daerah perdesaan dan terpencil yang tidak memiliki guru menjadi semakin terisolasi dan terpuruk (Sam M. Chan, dkk, 2011).

Bagaimana jadinya jika kondisi seperti itu ditambah dengan pelajaran sastra yang masuk kurikulum. Sebab, guru harus memikirkan ulang strategi pembelajaran, evaluasi pembelajaran, pemilihan bacaan, kemudian pengawalan belajar sastra sebagai hal yang baru. Kuantitas tersebut  belum ditambahi dengan peningkatan kualitas. Karena, kualitas yang meningkat harus didukung sarana dan prasarana yang ada terkait pembelajaran sastra. Apalagi, membedah sastra tidaklah mudah, karena satra memiliki tipikal yang khas di kalangan pembacanya.

Karena itu, diperlukan tenaga pendidik yang bisa bekerja sama dengan penulis, menggali ulang keberagaman sastra yang dimiliki dan pemahaman kehidupan yang baik. Program baru ini mungkin bisa menaikkan tingkat literasi, tapi tidak spontan. Karena beberapa murid lebih menyukai pembelajaran audio, yakni melihat film, youtube, dan lain-lain daripada membaca buku sastra yang tebal-tebal lebih dari 100 halaman. Belum yang serial-serial. Semakin rumit dan pusing.

Hal Pembelajaran Sastra

Ketika belajar sastra, yang paling penting dari seorang murid adalah bagaimana murid bisa memahami setiap plot-plot kejadian dalam setiap cerita atau makna yang tersirat dari sastra yang ada. Bila di sekolah dasar sastra yang cocok dan tepat adalah dongeng atau legenda seperti Si Kancil, Tangkuban Perahu, Malin Kundang, atau cerita legenda yang unik di daerah masing- masing.

Tinggalkan Balasan