Berbeda dengan sufisme, neosufisme merupakan aktivisme berbasis spiritualisme. Artinya, spiritualitas dan aksi nyata merupakan satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan.
“Semakin saleh seseorang, ia seharusnya semakin aktif. Tasawuf tidak berarti harus meninggalkan aktivitas duniawi. Justru, di mata Syekh Yusuf Al-Makassari, tidak benar jika bertasawuf meninggalkan aktivisme sosial,” papar Oman.

Ajaran neosufisme tersebut juga tercermin dalam perjalanan panjang Syekh Yusuf itu sendiri. Misalnya, selama berada di Banten, selain mengajarkan ilmu agama dan khususnya tasawuf, Syekh Yusuf juga menjadi penasihat Sultan Ageng Tirtayasa. Bahkan, Syekh Yusuf juga ikut berjuang secara fisik melawan Belanda, yang menyebabkannya diasingkan ke luar negeri, mulai dari Srilanka hingga Afrika Selatan.
Selama dalam pengasingan di Cape Town, Afrika Selatan, Syekh Yusuf juga melakukan apa yang dilakukan di Banten. Di sana, selain menyebarkan ajaran Islam dan neosufisme, Syekh Yusuf bersama masyarakat setempat juga turut melakukan perlawanan terhadap penjajah.
“Syekh Yusuf menjadi inspirator Nelson Mandela dalam melawan politik aparteid untuk memerdekakan Afrika Selatan. Atas jasanya, pemerintah Afrika Selatan menganugerahi gelar pahlawan,” ujar Oman.
Di bagian lain, pengasuh Pondok Pesantren Al-Hamidiyah Depok ini juga menjelaskan adanya temuan baru terkait sejarah Syekh Yusuf. Baru ditemukan manuskrip berupa kitab berjudul “Nafi al-Bayan” yang ditulis oleh Abdarrauf as-Sinkli Aceh. Rupanya, kitab tersebut merupakan sarh atau komentar atas kitab berjudul Masail al-A’yan karya Syekh Yusuf. Manuskrip tersebut dikoleksi Museum Pedir di Banda Aceh.
Sementara itu, Musdalifah menjelaskan, Syekh Yusuf telah melahirkan sedikitnya 57 kitab. Selama di Banten, Syekh Yusuf telah menulis 32 karya, sisanya ditulis selama mukim di Cape Town. Dari seluruh karyanya, jika disarikan, sedikitnya terdapat lima nilai yang selalu diajarkan Syekh Yusuf. Yaitu, moderasi beragama (sufisme moderat), keadilan sosial dan keberanian moral, sufisme aktif, ketahanan mental dan kebangsaan, dan etika religius lahir batin.
“Nilai-nilai yang diajarkan Syekh Yusuf cocok untuk pendidikan karakter di era modern ini. Dgn ini, Syekh Yusuf tak hanya dikenang sebagai tokoh masa lalu, tapi tokoh inspiratif di masa kini,” ujar Musdalifah.
