Semasa kuliah, saya bukan mahasiswa istimewa. Tapi di akhir masa perkuliahan di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember itu, saya memperoleh perlakuan “istimewa”. Mungkin, sayalah orang pertama yang diberi surat keterangan (suket) lulus, bukan ijazah. Dan hingga bertahun-tahun kemudian, hanya suket itulah yang saya gunakan untuk berbagai kepentingan.
Saya pun tak pernah menduga peristiwa itu bakal terjadi. Ceritanya, beberapa hari setelah ujian skripsi, saya dipanggil dekan, namanya A Nizar Hasyim, biasa disapa Pak Nizar.

Pak Nizar, yang juga menjadi pembimbing skripsi saya, menyarankan saya ikut seleksi rekrutmen wartawan di Harian Surya. “Sekarang masa pendaftarannya, kamu ikut saja,” katanya.
Saya kaget, karena saat itu baru ujian skripsi. Belum yudisium. Belum wisuda. Baru beberapa bulan kemudian baru ada jadwal yudisium dan wisuda. Artinya, sebelum itu, saya belum bisa memegang ijazah. Maka, saya bilang ke Pak Nizar, “Saya kan belum punya ijazah, Pak.”
“Gampang, nanti saya bikinkan surat keterangan lulus,” sahut Pak Nizar, enteng saja, sambil memberi rekomendasi agar saya menemui seseorang.
Perkiraan saya, Pak Nizar mendorong saya ikut tes wartawan karena saya memang hobi menulis. Bahkan, saat masih aktif kuliah, tulisan-tulisan saya sudah agak sering dimuat di Harian Jawa Pos dan Surya, dua koran terbesar di Jawa Timur ketika itu. Selain itu, saya salah satu perintis dan kemudian menjadi pemimpin redaksi majalah kampus, Religia.
Dan benar saja, tak lama kemudian saya bisa memegang selembar kertas yang menerangkan bahwa saya telah lulus kuliah dan berhak menyandang gelar sarjana. Suket itu ditandatangani oleh Pak Nizar sendiri sebagai dekan.
Tentu saja saya bungah. Suket itu kemudian saya pamer-pamerkan kepada beberapa teman dekat. Dari situ beritanya menyebar ke mana-mana. Ada yang terheran-heran. Banyak yang iri. Tak sedikit yang mencoba mengajukan permohonan untuk memperoleh suket serupa. Saya tak tahu hasilnya.
Yang pasti, dengan suket itu saya mengikuti tes untuk menjadi wartawan. Dan diterima. Namun, karena ada masalah teknis, saya tak jadi bergabung dengan harian Surya. Berikutnya, saya ikut tes lagi di Harian Karya Darma, yang tergabung dalam grup Jawa Pos. Dan karena begitu menikmati menjalani profesi sebagai wartawan, saya tak pernah lagi kepikiran soal ijazah.
Ndilalah, pada suket yang saya pegang itu tidak ada masa kadaluwarsanya. Maka, ketika tiga tahun kemudian saya pindah kerja di koran lain, di Bali, suket itu pula yang saya ajukan sebagai bukti bahwa saya bergelar sarjana. Dan tidak ada masalah. Hanya, bagian sumber daya manusia (SDM) memberi catatan agar saya segera menyusulkan salinan ijazah dan menunjukkan aslinya, hal yang akhirnya tidak pernah saya lakukan.
Selama di Bali, saya beberapa kali pindah tempat kerja, hanya dengan berbekal suket itu. Suket itu pula yang saya bawa ketika pada 2005 saya hijrah ke Jakarta. Dan akhirnya, saya bisa bekerja di banyak tempat, di beberapa bidang, tanpa perlu menunjukkan ijazah. Suket itu pun akhirnya juga tidak diperlukan lagi. Semua didasarkan pada relasi dan kompetensi. Juga rekam jejak atau portofolio.
Nah, ketika sudah tidak lagi memerlukan ijazah, saya justru mengambilnya. Itu pun karena beberapa kali diingatkan oleh sejumlah teman semasa kuliah yang sudah menjadi dosen atau pejabat di almamater saya itu. Kata mereka, sayang kalau tidak diambil. Dan, belum tentu juga pihak kampus akan bisa terus menyimpannya.
“Memangnya kampus ini tempat penitipan ijazahmu?” demikian satu dari mereka berkelakar.
Akhirnya, setelah sekitar dua dekade kelulusan, saya kembali ke kampus untuk mengambil ijazah tersebut. Tapi hingga saat ini saya belum pernah menggunakan ijazah itu untuk kepentingan apa pun. Ijazah itu benar-benar masih “perawan”. Pun, belum pernah difotokopi untuk dilegalisasi.
Semua itu bisa terjadi hanya gara-gara selembar suket.
Andaikan waktu itu bapak saya punya ide gila, menyuruh saya jadi wakil presiden mendampingi Pak Harto, pasti yang saya sodorkan ya hanya suket itu. Tapi serius, tak ada maksud untuk menipu, atau mengaku-aku, bahwa saya lulus kuliah agar bisa menjadi wakil presiden. Dan tidak juga takut akan diadili jika di kemudian hari ada lawan politik yang mengusik. Sebab, faktanya memang begitu. Saya punya ijazah. Hanya, baru sekitar dua dekade setelah lulus, ijazah itu saya ambil.
Sekarang kalau ada yang bertanya mana ijazahmu, langsung akan saya tunjukkan ijazah aslinya. Bukan lagi suket. Dan tak perlu bertele-tele sampai ke pengadilan segala.
