Polusi Perhatian
Jika kita meninjau secara sosiologis-historis, hubungan manusia dengan informasi telah mengalami pergeseran radikal. Selama berabad-abad, tantangan manusia adalah kelangkaan informasi. Namun, sosiolog Herbert Simon meramalkan pada tahun 1970-an bahwa ledakan informasi akan menciptakan “kemiskinan perhatian”.

Dahulu, sosiolog Charles Horton Cooley memperkenalkan konsep The Looking-Glass Self dalam bukunya Human Nature and the Social Order (1902), yang menyatakan bahwa identitas kita terbentuk dari bagaimana kita membayangkan orang lain melihat kita. Di masa lalu, “cermin” ini adalah komunitas kecil yang nyata—keluarga, tetangga, dan teman sekolah. Namun hari ini, cermin itu adalah algoritma global yang tidak punya empati.
Sosiolog kontemporer Sherry Turkle dalam buku Alone Together: Why We Expect More from Technology and Less from Each Other (2011) menyoroti bahwa kita kini terjebak dalam kondisi “selalu terhubung, tapi selalu merasa kesepian”. Algoritma menciptakan ilusi komunitas, namun sebenarnya ia mengisolasi kita dalam gelembung filter (filter bubbles).
Sejarah menunjukkan bahwa manusia purba merasa aman saat menjadi bagian dari kelompok. Algoritma mengeksploitasi ketakutan purba akan pengucilan sosial (social exclusion) dengan memaksa kita untuk terus memantau tren agar tidak tertinggal (FOMO). Ironisnya, semakin kita memantau, semakin kita merasa terasing dan rendah diri karena merasa tidak pernah cukup “keren” atau “sukses” dibanding arus konten yang lewat.
Masyarakat Pencapaian
Filsafat kontemporer memberikan analisis yang lebih gelap namun akurat. Byung-Chul Han, filsuf asal Jerman-Korea, dalam bukunya The Burnout Society (2010), menjelaskan bahwa kita telah beralih dari “Masyarakat Kedisiplinan” (yang dilarang melakukan sesuatu) menjadi “Masyarakat Pencapaian” (yang dipaksa melakukan segalanya). Algoritma adalah mandor digital dalam masyarakat ini.
