Scroll Tanda Cemas

Algoritma tidak lagi bekerja melalui sensor atau larangan, melainkan melalui godaan untuk “menampilkan diri”. Kita merasa harus mengunggah, harus terlihat bahagia, dan harus terlihat produktif. Kepercayaan diri kita kini dipindahtangankan ke pihak eksternal: jumlah likes dan views. Ketika angka-angka tersebut tidak muncul, terjadi krisis eksistensial. Kita merasa tidak ada jika tidak terlihat di layar.

Selain itu, Shoshana Zuboff dalam bukunya The Age of Surveillance Capitalism (2019) menjelaskan bahwa algoritma adalah instrumen dari “kapitalisme pengawasan”. Kepercayaan diri kita yang hancur sebenarnya menguntungkan bagi korporasi. Mengapa? Karena individu yang merasa tidak percaya diri, merasa tidak cantik, atau merasa hidupnya membosankan, adalah konsumen yang paling mudah dimanipulasi untuk membeli produk atau layanan yang menjanjikan “solusi” atas rasa rendah diri tersebut. Algoritma sengaja menciptakan lubang di jiwa kita, lalu menjual tambalannya melalui iklan bertarget.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Mentalitas Anak Muda

Data aktual dari survei Royal Society for Public Health di Inggris menunjukkan bahwa platform berbasis gambar seperti Instagram secara konsisten menduduki peringkat terburuk bagi kesehatan mental dan citra tubuh anak muda. Secara teoretik, ini berkaitan dengan displacement hypothesis, di mana waktu yang dihabiskan untuk scrolling menggantikan aktivitas yang benar-benar membangun kepercayaan diri, seperti hobi fisik, interaksi tatap muka, atau kontemplasi.

Anak muda saat ini mengalami apa yang disebut “Digital Dysmorphia”. Mereka melihat diri mereka di cermin dan merasa kecewa karena tidak mirip dengan versi diri mereka yang menggunakan filter. Ini adalah tragedi identitas; kita mulai membenci realitas fisik kita karena telah jatuh cinta pada citra digital yang disetir algoritma.

Melepaskan Diri dari Jerat Angka

Social anxiety dan krisis kepercayaan diri di era modern bukanlah cacat karakter, melainkan hasil sampingan dari desain teknologi yang eksploitatif. Algoritma ingin kita merasa tidak cukup, karena rasa tidak puas adalah bahan bakar ekonomi digital.

Tinggalkan Balasan